Evaluasi Program Sekolah Lapang Pertanian Universitas Bojonegoro dan EMCL

Bojonegoro, Pertanian, Kampus, Lppm, Universitas, Petani, Tanaman, Exxon, Emcl, Program, Sekolah

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro pada Jumat (6/7) kemarin menggelar pertemuan dengan para petani dan taruna tani di empat desa di Kecamatan Gayam, yakni Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo dan Brabowan.

Pertemuan yang dilakukan di balai kecamatan tersebut terkait dengan evaluasi Program Sekolah Lapang Pertanian (SLP) yang dilaksanakan oleh LPPM Unigoro bersama dengan Exxon Mobil Cepu Ltd (EMCL), selain itu juga sebagai ajang silaturahmi dan halal bihalal pasca IdulFitri.

Program SLP mulai dilaksanakan pada akhir tahun 2017 lalu dengan melakukan pendampingan kepada 80 petani dan 20 taruna tani yang ada di Kecamatan Gayam.

Dalam kegiatan evaluasi tersebut dihadiri oleh Manajer Program LPPM, Arief Januwarso, perwakilan EMCL, Beta Wicaksono, Kepala Dinas Pertanian, Ahmad Djupari, Plt Camat Gayam, Sahari dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Nurul Azizah.

“Kegiatan pada hari ini kita melakukan evaluasi terkait pelaksanaan Sekolah Lapang Pertanian ke-2 yang telah dilakukan LPPM Unigoro bersama EMCL untuk petani di Kecamatan Gayam,” ucap Arief Januwarso di hadapan para peserta SLP yang hadir.

Dosen yang juga Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro tersebut menjelaskan, perlunya evaluasi ini agar ada kritik dan saran agar program SLP ke depannya semakin baik dan bermanfaat bagi petani.

Pihaknya menyebutkan, ada kenaikan 30% dari hasil pertanian setelah dilakukan pendampingan kepada para petani, dan salah satu faktor utamanya adalah penggunaan pupuk organik yang menjadi salah satu program pendampingan.

Meski demikian, LPPM Unigoro menyebut ada beberapa faktor penghambat yang masih kita miliki, salah satunya adalah ketersediaan air untuk pertanian di Kecamatan Gayam yang sangat minim.

“Tujuan SLP ini adalah untuk mewujudkan petani cerdas yang mampu mengelola pertanian dengan biaya yang rendah. Selain itu, kedepan kita juga harus menguatkan kelembagaan Taruna Tani Gayam,” imbuhnya.

Sementara itu, Beta Wicaksono dari EMCL mengharapkan dengan dilakukannya Program Sekolah Lapang Pertanian ini dapat meningkatkan kualitas pertanian dan kesejahteraan para petani di Kecamatan Gayam.

“Harapan kami adalah saat petani bisa merasakan manfaat dari program ini untuk mengembangkan pertanian, maka setiap jengkal lahan yang ada bisa dimanfaatkan,” ucapnya.

Ia juga meminta para petani aktif dalam menjalin komunikasi dengan pihak LPPM jika ada masalah atau kendala dalam kegiatan pertanian.

Selama Program SLP 2 dilaksanakan, beberapa materi yang telah diberikan diantaranya adalah terkait asuransi pertanian, pinjaman kredit pertanian, pembuatan pupuk organik, penerapan biopori dan sistem resi gudang.

Sementara untuk taruna tani sendiri difokuskan untuk menjadi pengusaha pertanian dimana mereka mendapatkan pelatihan penanaman labu madu dan pengolahan makanan dari hasil labu madu.

Beberapa kuliner olahan dari labu madu juga turut dipamerkan dalam kegiatan tersebut, diantaranya olahan kue basah, kue kering dan jajanan lainnya.

Kegiatan evaluasi diakhiri dengan melakukan panen raya tanaman buah labu madu yang ada di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam. (humas)

You may also like...