GMNI Bojonegoro Peduli Banjir Pacitan

GMNI Bojonegoro Peduli Banjir Pacitan

PEDULI: Aktivis GMNI Bojonegoro saat menyerahkan sembako pada korban banjir di Pacitan.

 

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bojonegoro kembali menunjukkan jiwa sosial dan keprihatinannya terhadap masyarakat korban musibah banjir bandang dan tanah longsor di Pacitan. Penggalangan dana yang dimulai pada 4-5 Desember 2017 dilakukan di 3 titik.

Yang pertama di Alun-Alun Bojonegoro. Kedua di SPBU Jetak, Bojonegoro, dan di lampu merah sekitaran kota. ”Aksi kan tidak harus kita demo dan orasi di depan wakil rakyat, tetapi aksi juga bisa dalam bentuk kegiatan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara contohnya seperti ini,” kata Bung Oscar, ketua DPC GMNI Bojonegoro. Aksi juga diikuti anggota GMNI Komisariat Universitas Bojonegoro.

Sumbangan yang akan dikirim ke korban musibah bukan berbentuk uang, tetapi dalam bentuk sembako yang disalurkan langsung ke titik yang paling parah. Pukul 00.20 WIB pada 6 Desember 2017, pemberangkatan dimulai dari Sekretariat Wisma Merah Putih dan sampai di Pacitan dijemput oleh anggota GMNI Pacitan yang menunggu di alun-alun pukul 05.00 WIB.

Ketua DPC GMNI Pacitan berterimakasih atas bantuan dan konstribusi dari GMNI Bojonegoro. “Kami intinya sangat terimakasih untuk GMNI Bojonegoro yang senantiasa menjaga erat rasa sosial terhadap saudara sebangsa kita terutama di pacitan ini. Dan juga bisa mempererat rasa silaturahmi antar satu atap perjuangan,” ujarnya.

Penyaluran sumbangan dilakukan di Dusun Wonorejo, Desa Punjung, Kecamatan Bonagung, Pacitan. Titik lokasi ini sangat jarang diberi sumbangan oleh tim SAR atau para relawan. Karena, lokasinya di pegunungan, sehingga mobil tidak bisa masuk ke lokasi sebab harus ditempuh dengan jalan kaki.

Menurut Ismini, ketua dari pengungsi, di dusun ini ada sekitar 26 KK yang hampir semua rumahnya di satu dusun ambles dan hancur. Hanya ada 3-5 rumah yang bisa di tempati tetapi tembok tetap retak-retak. “Semua rata hancur mas, ya tinggal ini posko yang saya tempati yang punya rumah sudah tua,” ungkapnya. ”Ya semoga disini aman mas meskipun yang lain sudah hancur,” sambung Mbah Katiyem.

Sebelum banjir bandang besar dan tanah longsor, menurut warga sekitar, hujan deras tiada henti selama 3 hari mengguyur wilayah sekitar hingga mengakibatkan bendungan yang belum jadi jebol. Luberan airnya meluap di hampir seluruh wilayah kabupaten di Pacitan. (Handis)

You may also like...