KURIKULUM, TONGGAK PENDIDIKAN BANGSA

Guru-mengajar-tanjungpinangpos.co_.id_

Pendidikan. Sebuah kata yang memiliki arti sungguh luar biasa. Merubah harapan dan memberikan air mata kehidupan. Semua orang mendambakanmu. Semua orang menginginkanmu. Dan semua orang ingin bisa memilikimu. Tapi, entah kenapa dengan negeri ini, mempunyai banyak potensi namun minim memproduksi.

Negeri ini adalah Indonesia. Tempat saya lahir dan dibesarkan. Disinilah saya melihat begitu banyak senyuman. Anak–anak kecil berlarian kesana kemari, memakai seragam. Seakan mereka sedang menikmati surga di antara bangunan-bangunan sekolah, dengan membawa tumpukan kertas yang berisikan kata – kata ajaib yang akan mengubah kisah hidup mereka.

Membayangkan masa–masa ketika kecil sungguh senang rasanya. Namun, satu pertanyaan muncul di dalam fikiran yang sudah dewasa ini, apakah semua anak di negeri ini sudah mendapatkan pendidikan yang layak seperti halnya anak– anak di pulau jawa, sebuah pulau yang menjadi sentral negaraku ini.

Begitu kompleks permasalahan tentang pendidikan di Indonesia, mulai dari faktor ekonomi, faktor lingkungan, dan masih banyak lagi faktor–faktor yang membuat pendidikan di Indonesia belum bisa dirasakan oleh semua kalangan. Apakah hanya faktor eksternal yang membuat pendidikan di Indonesia belum bisa baik? Adakah hubungan faktor internal ikut andil dalam kemajuan pendidikan di Indonesia, mungkin jawabannya adalah iya.

Kurikulum yang Berubah-ubah

            Faktor internal ikut andil dalam kemajuan bangsa ini, mulai dari kurikulum yang selalu berganti–ganti, pemerataan guru yang belum maksimal, dan kualitas sekolah yang tidak sama rata.

Dalam essay ini, saya akan membahas satu faktor yang sangat menentukan arah dan kemajuan pendidikan. Kurikulum adalah salah satu faktor internal dalam pendidikan. Kurikulumlah yang menjadi pondasi rencana pendidikan sebuah bangsa. Kurikulum juga yang mengarahkan pendidikan di sebuah negara menuju keteraturan. Baik dan buruknya pendidikan ditentukan oleh kurikulum. Apakah mampu membangun kesadaran kritis peserta didik atau tidak.

Ibarat sebuah bangunan, kurikulum adalah pondasi bangunan tersebut yang berpengaruh pada kokohnya bangunan. Begitu pentingnya kurikulum di dalam pendidikan menjadikan kurikulum sebagai rujukan pertama yang seharusnya dibenahi.

Namun, itu semua hanyalah isapan jempol belaka. Ini didasarkan data yang didapat dari Soedijarto dalam bukunya Landasan dan Arah Pendidikan Nasional (2008: 117) dan A. Ferry T. Indratno dengan judul Kurikulum Yang Mencerdaskan, Visi 2030, dan Pendidikan Alternatif (2007: 107-108). Dari tahun 1947 sampai sekarang negara ini sudah memiliki 11 kurikulum yang selalu berubah-ubah. Dimulai dari tahun 1947 yang sering disebut sebagai Rentjana Pelajaran. Rentjana Pelajaran lebih memfokuskan membentuk karakter manusia Indonesia merdeka.

Dilanjutkan Rentjana Pelajaran Terurai tahun 1952 sebagai kelanjutan penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Dan pada masa orde lama kurikulum terakhir adalah Rentjana Pendidikan 1964. Disini rakyat diharuskan mendapat pengetahuan di tingkat SD. Pada era orde baru tepatnya tahun 1968, melahirkan Kurikulum 1968, yang menghasilkan bagaimana pendidikan harus membentuk manusia Pancasialis dengan berlandaskan Undang – Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran No. 4 Tahun 1950, TAP MPRS No.II Tahun 1960.

Namun, kurikulum ini tidak bisa bertahan lama. Kemudian berganti lagi dengan Kurikulum 1975 dengan berlandaskan TAP MPR No. II/MPR/1973. Apa yang menjadi penyebab Kurikulum 1968 digantikan Kurikulum 1975? Penyebabnya adalah adanya TAP MPR yang baru mengakibatkan harus adanya kurikulum yang baru.

Sama halnya Kurikulum 1968, kurikulum di tahun 1975 juga mengalami nasib serupa. Kurikulum ini digantikan oleh Kurikulum 1984. Artinya, dalam waktu singkat kurikulum kita sudah mengalami masa pergantian sebanyak 6 kali.

Saat itu Pemerintah menetapkan diri sebagai penguasa, tanpa melihat masalah yang timbul akibat dari pergantian kurikulum yang menjadikan para guru dan siswa terombang ambing dalam ketidakpastian. Dengan beralasan pembangunan yang pesat sehingga menimbulkan ruang – ruang baru dalam pembangunan pendidikan, Kurikulum 1975 dirasa sudah tidak cocok dan harus digantikan dengan Kurikulum 1984.

Bertahan selama 10 tahun, lahirlah kurikulum selanjutnya yaitu di tahun 1994. Sebagaimana buruknya orde baru yang selalu melakukan bongkar pasang. Kurikulum 1984 tidak digunakan lagi. Selanjutnya alasan apalagi yang menjadi latar belakang pergantian. Kurikulum 1984 yang lebih memfokuskan dalam mencetak tenaga–tenaga pendidikan yang siap pakai dirasa sudah tidak relevan untuk digunakan dan pemerintah ingin menciptakan ruang berfikir lebih dewasa dan maju kepada anak didik untuk melakukan aktualisasi diri secara kreatif.

Tapi ini pun belum selesai. Kurikulum 1994 bukanlah akhir semuanya. Setelah masa reformasi 1998 munculah Kurikulum 2004, menggantikan Kurikulum 1994 yang lebih terkenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Dan bagaikan sudah bisa ditebak akhir dari setiap kurikulum pasti akan berganti. Kurikulum 2004 digantikan oleh kurikulum tahun 2006 yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mana pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan. Kemudian, dilanjutkan Kurikulum 2013, berbeda halnya dengan KTSP, Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah dan terakhir Kurikulum tahun 2015 yang lebih memfokuskan dalam pembenahan KTSP.

Kurikulum dan Kesenjangan Pendidikan

Disadari atau tidak, kurikulum lah yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial yang membedakan masyarakat kelas atas, menengah, dan kelas menengah ke bawah. Kurikulum yang menyebabkan tingkat standar setiap sekolah berbeda–beda. Ada sekolah yang berstandar internasional. Dan ada sekolah yang berstandar biasa.

Di sinilah kesenjangan yang saya maksud, masyarakat kelas atas dan menengah ke atas akan berusaha memasukan anak–anaknya ke dalam sekolah berstandar internasional. Sedangkan masyarakat kelas menengah ke bawah dengan sendirinya akan merasa ada pembeda di antara ketidakmampuan ekonomi. Sehingga anak-anaknya akan dimasukan ke sekolah yang berstandar biasa.

Melihat mudahnya pergantian kurikulum dan akibat yang ditimbulkan membuat saya berfikir mau kemana negara ini dibawa. Akankah negeriku Indonesia akan memiliki pendidikan yang baik, dan akankah negeri ini menjadi negeri impian yang di mana Indonesia menjadi contoh beberapa negara dalam hal pendidikan.

Harapan belum berakhir, dan di sinilah pokok pembahasan saya. Kurikulum adalah awal dari semuanya. Kurikulum bagaikan lilin ditengah gelapnya malam, yang dapat memberikan sinar dan dapat mengarahkan ke jalan yang benar. Kurikulum adalah kuncinya. Kurikulum yang baik dan konsisten itulah faktor penentu kemajuan pendidikan. Pemerintah harus benar–benar melihat, membuat kurikulum yang baik dan melihat jauh ke depan untuk menciptakan tatanan pendidikan yang rapi, menciptakan daya saing dan daya kreatif agar peserta didik terpacu.

Kurikulum harus bisa membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat membuat peserta didik mengeluarkan potensi yang lebih dalam berprestasi. Waras Kamdi dari Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Negeri Malang di dalam buku berjudul Panduan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan karya Moh Yamin (2012: 218) berpendapat, bahwa pendidikan harus demokratis dan humanis.

Di dalam pernyataan tersebut terlihat jelas bahwa kurikulum seharusnya dapat menciptakan suasana dan kondisi yang kondusif dalam proses belajar mengajar di kelas. Para generasi muda bangsa bukan dididik layaknya robot yang dipacu untuk menerima ilmu terus menerus. Belajar dari pagi sampai malam, bukan merupakan tujuan bangsa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sistem pembelajaran harus humanis, yaitu memanusiakan manusia, mengajak para peserta didik ikut dalam menyuarakan pendapat mereka, berdiskusi, dan belajar bersama guna menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak takut dalam menyuarakan pendapat. Kurikulum yang baik dan konsisten juga berguna bagi para guru dalam menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan ke depannya dalam mendidik para generasi muda.

Pendidikan bertujuan untuk mengajar, memanusiakan, dan mengarahkan anak didik untuk mencapai hasil akhir yang sempurna. Itulah seharusnya yang dilakukan pemerintah dalam membuat sebuah kurikulum yang baik dan konsisten. Pemerataan guru ke seluruh sekolah di Indonesia merupakan hasil dari kurikulum yang baik, dimana di dalam kurikulum harus ada keputusan terciptanya pendidikan yang dapat dirasakan semua orang di Indonesia.

  1. Ferry T Indratno mengatakan di dalam bukunya Kurikulum Yang Mencerdaskan, Visi 2030, dan Pendidikan Alternatif (2007: 111-112). Bahwa, Kurikulum harus memiliki identitas kerakyatan, dan benar–benar memperjuangkan khalayak (dalam hal ini anak didik). Berdasarkan pendapat A. Ferry T Indratno, kurikulum harus merakyat. Merakyat dalam hal ini adalah kurikulum tidak memihak kelas manapun. Perbedaan tingkat standar sekolah juga merupakan pernyataan bahwa kurikulum tidak merakyat.

Kurikulum harus merakyat, menyamaratakan semua infrastruktur dan mutu pendidikan di semua sekolah di Indonesia. Sudah waktunya kurikulum diciptakan untuk kemajuan pendidikan. Indonesia dapat berubah ke arah yang lebih baik. Indonesia masih punya harapan untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikannya dan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih baik dan memiliki daya saing.

Dengan adanya semangat berubah menciptakan tata aturan pendidikan yang baik dan konsisten, saya yakin Indonesia dapat membuat pendidikan yang dapat menjadi contoh oleh semua negara di dunia. Kenapa di dunia? Kenapa tidak se-Asia? Karena Indonesia mempunyai banyak tenaga pengajar yang ahli di bidangnya. Negeri ini mempunyai generasi muda yang cerdas, dan Indonesia sudah mulai paham arti sebuah ilmu.

Pendidikan dapat diatur jika dasar dari pendidikan sudah kokoh. Kurikulumlah yang menjadi dasarnya. Semakin baik kurikulumnya, semakin baik pendidikannya. Semakin baik pendidikannya, semakin baik pula sumber daya manusianya. Dan semakin baik sumber daya manusianya, akan semakin baik daya saingnya.

            Terbanglah Garudaku, kepakan sayapmu, dan raihlah mimpimu, untuk kemajuan Indonesiaku. (Imam Agus Faisal)

You may also like...