Unigoro Adakan Seminar Menembus Persaingan Serapan Tenaga Kerja di Level Internasional

SEMINAR 21112016

DALAM RANGKA LAUNCHING PUSAT PENGEMBANGAN KARIR (PPK) & PUSAT BAHASA, BUDAYA & KEBERLANJUTAN (PUSAKA)

UNIVERSITAS BOJONEGORO

21 NOVEMBER 2016, DI AULA REKTORAT UNIVERSITAS BOJONEGORO

“MENEMBUS PERSAINGAN SERAPAN TENAGA KERJA DI LEVEL INTERNASIONAL”

(Oleh: Wayne Palmer PhD, University of Sydney)

Pertumbuhan ekonomi global memberikan dampak, peluang dan tantangan dalam waktu yang bersamaan bagi seluruh bangsa di dunia yang memasuki sistem perdagangan bebas dunia WTO (World Trade Organization) dan Indonesia adalah salah satu anggotanya. Dengan ikut sertanya Indonesia menjadi anggota WTO, berarti semua aturannya wajib diikuti, diantaranya bidang jasa ketenagakerjaan. Jasa ketenagakerjaan adalah yang paling sensitive, paling strategis dan paling banyak disoroti dari negara-negara berkembang.
Indonesia-Investment.com merilis, Pertumbuhan makro ekonomi yang cukup kuat selama lebih dari satu dekade ini secara berlahan telah mampu menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Namun, dengan kira-kira dua juta penduduk Indonesia yang tiap tahunnya terjun ke dunia kerja, adalah tantangan yang sangat besar buat pemerintah Indonesia untuk menstimulasi penciptaan lahan kerja baru supaya pasar kerja dapat menyerap para pencari kerja yang tiap tahunnya terus bertambah; pengangguran muda (kebanyakan adalah mereka yang baru lulus kuliah) adalah salah satu kekhawatiran utama dan butuh adanya tindakan yang cepat. Salah satu karakteristik Indonesia adalah bahwa angka pengangguran cukup tinggi yang dihadapi oleh tenaga kerja muda usia 15 sampai 24 tahun, jauh lebih tinggi dari angka rata-rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari universitas dan siswa sekolah kejuruan dan menengah mengalami kesulitan menemukan pekerjaan di pasar kerja nasional. Hampir setengah dari jumlah total tenaga kerja di Indonesia hanya memiliki ijazah sekolah dasar saja.
Bercermin pada paparan di atas, meningkatnya angka pertumbuhan pengangguran pada usia produktif, khususnya pada lulusan perguruan tinggi, mengindikasikan beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut beberapa ahli ekonomi dan sosial, meningkatnya angka pengangguran dapat disebabkan adanya kekurangsiapan pemerintah dan swasta dalam membuka peluang kerja bagi, khususnya bagi para pencari kerja yang belum memiliki pengalaman atau fresh graduate. Yang kedua adalah kurangnya kesiapan para pencari kerja dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Pertanyaan mendasar dalam mengkaji kebutuhan di lapangan, dalam upaya mempersiapkan para calon pencari kerja, yang notabene masih berstatus mahasiswa adalah ‘Perlukah Perguruan Tinggi berperan dalam proses pembekalan persiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja?’.
UNIGORO sebagai institusi yang setiap tahunnya menghasilkan lulusan mempunyai tanggung jawab moral untuk menjamin lulusannya cepat memperoleh pekerjaan melalui pelatihan-pelatihan soft skill dan informasi lowongan pekerjaan yang mutakhir. Kecepatan dalam memperoleh informasi lowongan pekerjaan dan kompetensi yang dimiliki oleh lulusan diharapkan mampu memperpendek masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan. Selain itu, lulusan UNIGORO juga diharapkan mempunyai kompetensi yang mandiri dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dan dirinya sendiri. Pembekalan berupa keterampilan-keterampilan yang menunjang kompetensi lulusan melalui pelatihan yang diadakan UNIGORO diharapkan dapat membantu lulusan siap menghadapi persaingan di pasar kerja.

Berdasarkan pemaparan kajian tersebut di atas dan realitas tantangan dunia kerja, UNIGORO menjawab tantangan tersebut dengan mendirikan sebuah lembaga yang mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang dimaksud. Pembentukan Pusat Pengembangan Karir (Career Development Center/CDC-UNIGORO) bagi mahasiswa dan alumni adalah upaya kredibel UNIGORO untuk mendorong & membekali para mahasiswanya dalam mengantisipasi tantangan ketenagakerjaan di masa kini maupun yang akan datang.
Selain tantangan tersebut diatas, dalam mengantisipasi persaingan dan kerjasama global yang berkelanjutan, bangsa Indonesia memerlukan SDM yang tangguh, sikap profesionalisme yang proporsional sesuai dengan bidangnya, serta kemampuan berinteraksi dengan pemahaman konteks sosial budaya dan bahasa. Sebagai ilustrasi, kerjasama ekonomi dan kebudayaan yang semakin baik dengan negara-negara wilayah Eropa, Amerika dan Australia menuntut adanya SDM yang tidak hanya terampil berbahasa Inggris tapi juga memahami kebudayaan kedua belah negara dan kontribusinya terhadap keberlanjutan masing-masing negara. Hal itu akan dapat terwujud apabila tersedia media kajian dan pelatihan bahasa, budaya keberlanjutan yang dikelola secara profesional.

Mengapa perlu belajar bahasa Inggris? Pembelajaran bahasa Inggris merupakan salah satu solusi dalam mencapai tujuan untuk berkomunikasi dengan dunia luar, mengingat bahasa Inggris menjadi bahasa persatuan internasional, dimana semua orang di segala negara dapat berkomunikasi dengan satu bahasa yang netral dan dimengerti. Di samping itu, ada beberapa alasan bahasa Inggris perlu dipelajari, yaitu: 1) bahasa Inggris merupakan bahasa yang banyak digunakan yang tersebar di berbagai belahan negara; 2) alasan strategis dan politis, karena kebanyakan negara yang menggunakannya merupakan negara-negara yang memiliki tingkat pendapatan yang lebih besar dari negara lain; dan 3) bahasa Inggris memberikan pengaruh yang luar biasa besar bagi kehidupan, baik bidang teknologi, media-media elektronik, bidang diplomatik, serta pariwisata. Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan atau menghasilkan teks lisan dan atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu. Menurut Wells, 1987 (dalam SKKD KTSP 2006: 3), tingkat literasi mencakup performative, functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat fungsional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran, bahkan pada tingkatan lebih tinggi, orang yang mampu menggunakan bahasa asing juga mampu memanfaatkan keahliannya tersebut untuk meningkatkan derajat dan kesejahteraan hidupnya. Dalam cakupan lebih luas, seseorang yang mampu berbahasa asing pun dapat berkontribusi secara signifikan terhadap kemajuan peradaban bangsanya, ini pun berlaku bagi Indonesia.

Seperti yang telah diketahui bahwa hubungan Indonesia dan negara-negara penutur bahasa Inggris semakin kondusif dalam berbagai sektor dan lini kehidupan di Indonesia terutama dibidang ekonomi dan pendidikan. Berbagai kajian telah mengulas pentingya bagi Perguran Tinggi di Indonesia untuk mempersiapkan para calon alumninya untuk memiliki keahlian berbahasa Inggris yang sangat diperhitungkan oleh Perusahaan bagi seorang profesional yang akan direkrut di dunia kerja maupun diprasyaratkan guna melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi. Dibuktikan dengan score TOEFL yang memadai, seorang Profesional dapat diakui sebagai pribadi yang siap kerja atau siap menempuh pendidikan lebih tinggi baik di level nasional maupun Internasional. Pada umumnya standar minimum skor TOEFL yang dipersyaratkan di berbagai instansi adalah 450 dan UNIGORO bertujuan untuk memberlakukan standar tersebut bagi para mahasiswanya. Namun dengan hanya 2 sks mata kuliah Bahasa Inggris di semester I yang dimasukkan ke dalam kurikulum 5 Fakultas di UNIGORO menjadi kendala terbesar untuk mencapai target tersebut.

Menyadari minimnya durasi pembelajaran bahasa Inggris & besarnya tuntutan kemajuan dunia kerja serta pendidikan tinggi, disamping itu, mengingat lokasi UNIGORO berada di Kabupaten Bojonegoro, yang kaya akan materi studi keberlanjutan dan pengelolaan dampak akibat pertumbuhan industri di desa-desa sekitar Kabupaten Bojonegoro yang berkontribusi dalam perkembangan studi keberlanjutan & kemajuan Kabupaten Bojonegoro sebagai Pusat Laboratorium Studi Keberlanjutan di Indonesia, mendorong UNIGORO untuk membentuk suatu Lembaga penunjang Pusat Pengembangan Karir, yang memberikan pelayanan pelatihan keterampilan berbahasa asing, pengetahuan pertukaran budaya serta pendampingan observasi implementasi studi keberlanjutan berupa Pusat Bahasa, Budaya dan Keberlanjutan atau Center for Language, Cultures & Sustainability (CELLS). Dalam cakupan internal lembaga ini bertujuan untuk membekali para calon alumnusnya untuk menjadi Profesional yang siap kerja, kompeten, berdaya saing, teruji di skala nasional maupun internasional dan memahami kontribusinya terhadap pembangunan keberlanjutan minimal di tingkat desanya-masing-masing, pada skala lebih luas Lembaga ini ingin berkontribusi dalam kemajuan SDM & Keberlanjutan Kabupaten Bojonegoro secara faktual.

Dengan berdirinya dua lembaga tersebut, diharapkan UNIGORO mampu menjawab tantangan global untuk berperan aktif dalam mencetak Sumber Daya Manusia yang berkeahlian & tersertifikasi untuk menembus persaingan serapan tenaga kerja di level internasional. Untuk mengkaji ketepatan langkah tersebut, UNIGORO mengundang salah seorang pakar Tenaga Kerja Indonesia (TKI)/Migrant workers untuk mengulas hasil penelitiannya dalam sebuah seminar bertajuk “MENEMBUS PERSAINGAN SERAPAN TENAGA KERJA DI LEVEL INTERNASIONAL” & mengadakan Kompetisi Pidato Berbahasa Inggris Tingkat SLTA & Perguruan Tinggi untuk meningkatkan minat generasi muda di Kabupaten Bojonegoro untuk turut andil dalam Global Citizenship & Persaingan Global.

You may also like...