BOJONEGORO – Perpustakaan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar pelatihan Mendeley bagi mahasiswa, pada Jumat (10/1/25). Mendeley adalah aplikasi yang digunakan untuk pembuatan sitasi dan daftar pustaka. Pelatihan Mendeley kali ini dipandu oleh Mrabawani Insan Rendra, M.PWK., selaku Ketua Bidang Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unigoro.
Pustakawan Perpustakaan Unigoro, Novi Nur Aryanti, S.IP., mengatakan, pelatihan Mendeley adalah program rutin perpustakaan yang ditujukan untuk mahasiswa. Tahun ini adalah ketiga kalinya workshop tersebut diselenggarakan. “Banyak mahasiswa yang berminat ingin ikut pelatihan ini. Namun kuota peserta hanya dibatasi 25 mahasiswa karena tempatnya terbatas,” ujarnya.
.jpg)
ANTUSIAS: Mahasiswa dan mahasiswi Unigoro antusias mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Unigoro.
Di hadapan para peserta, Insan menjelaskan pemanfaatan aplikasi dan praktik Mendeley pada tugas akhir skripsi, tesis, dan disertasi. Sekaligus pengenalan catatan khusus pada karya tulis ilmiah. Seluruh peserta dipandu untuk meng-install aplikasi Mendeley di laptopnya masing-masing. Menurut Insan, salah satu bagian dari karya tulis ilmiah yang sering ditemukan adalah kutipan. “Kutipan diperlukan sebagai informasi yang dapat menjelaskan sebuah istilah, bagian dalam uraian, serta memberikan informasi adanya sumber lain yang membahas kasus yang sama. Fungsi dari kutipan adalah sebagai bukti atau untuk memperkuat argumen atau pendapat penulis. Kalau tidak ada sitasinya, pasti karya itu dianggap plagiasi,” jelasnya.
Dosen Fakultas Sains dan Teknik (Saintek) Unigoro ini melanjutkan, dalam aturannya kutipan memiliki beberapa style (gaya, Red) tentang cara mengutip sumber dalam tulisan akademik. Mulai dari APA (American Psycological Association) Style, CMS (Chicago Manual of Styles), Harvard Style, Vancouver Style, serta IEEE Style. “Enaknya pakai aplikasi Mendeley ini kita bisa membuat sitasi dengan singkat dan tidak ribet. Kita tinggal pilih gaya penulisannya saja. Yang penting, kita harus menghindari kutipan sekunder,” imbuh Insan. (din)
