Peduli Sanitasi Air, Dosen Unigoro Gelar Pelatihan Pembuatan Filtrasi Air di Tuban

BOJONEGORO – Dyah Setyaningrum, S.Si., M.Sc., dosen prodi kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro), sukses menggelar pelatihan pembuatan filtrasi air sederhana di Desa Banjarejo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, pada 16 September 2024. Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat Pemula 2024 yang berjudul Pemberdayaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) Tirta Bahari dalam Sanitasi Air Bersih Menggunakan Filter Alam.Program ini didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) melalui Pendanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2024.


Dyah menuturkan, dia bersama dua rekannya Nindy Callista Elvania, ST., M.Ling, dan Mushtofa, ST., MT., mengamati masih ada desa-desa di Kabupaten Tuban yang mengalami krisis air bersih. Terutama di kawasan pesisir pantai, seperti Desa Banjarejo. Dyah menyebut, buruknya kualitas air di sana disebabkan oleh kondisi iklim, batuan permeabel atau topografi tanah yang memang tidak cocok untuk pengembangan sumber daya air, serta adanya intrusi air laut. “Sehingga kami tergerak untuk mengadakan sosialisasi dan pelatihan tentang sanitasi dasar air bersih di Desa Banjarejo. Dengan sasaran kegiatan konsumen, perangkat desa, serta pengurus Hippam Tirta Bahari,” ungkapnya, Senin (23/9/24).



TEAMWORK: (dari kiri) Dyah Setyaningrum, S.Si., M.Sc., Mushtofa, ST., MT., dan Nindy Callista Elvania, ST., M.Ling.


Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas air di Desa Banjarejo adalah membuat alat filtrasi air sederhana. Dyah mengatakan, air dari Hippam Tirta Bahari berwarna keruh dan menimbulkan kerak di panci saat direbus. Air harus difilter terlebih dahulu sebelum digunakan untuk keperluan sehari-hari. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat alat filtrasi air sederhana adalah kerikil, sabut kelapa, pasir pantai teraktivasi, dan karbon katif teraktivasi dari bonggol jagung. Dia menjelaskan, setiap bahan tersebut memiliki manfaat masing-masing. “Sabut kelapa bisa mengendapkan partikel besar. Lalu ditambah pasir pantai teraktivasi yang berfungsi menyaring unsur Mn dan Fe. Susunan vertikal berikutnya adalah karbon aktif dari bonggol jagung yang bertugas mengurangi kandungan kapur, zat organik, dan menghilangkan bau. Lapisan terakhirnya adalah kerikil pantai yang berfungsi sebagai penyaring lumpur. Masyarakat juga kami ajari cara membuat karbon aktif menggunakan arang bonggol jagung dan cara aktivasinya,” jelasnya.

Kini sebagian warga Desa Banjarejo telah memasang alat filtrasi air sederhana di rumahnya masing-masing. Akhir September nanti Dyah, Nindy, dan Mushtofa, akan memasang alat filtrasi modern di Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dikelola oleh Hippam Tirta Bahari. “Kami berharap pengabdian masyarakat yang telah dilakukan dapat berdampak keberlanjutan dalam menjawab permasalahan kualitas air di Desa Banjarjo. Partisipasi aktif dari masyarakat dan pemerintah setempat juga sangat dibutuhkan agar tujuan dari SDGs di tingkat desa dapat terpenuhi,” pungkasnya. (din)

Leave a Reply