Fenomena Gilar-gilar Kedunglantung, Unigoro Teliti Adaptasi Ikan di Sungai Berminyak Bojonegoro

BOJONEGORO – Di balik permukaan air Sungai Kedunglantung, Desa Drenges, Kecmatan Sugihwaras yang menampakkan fenomena gilar-gilar (lapisan pelangi akibat rembesan minyak bumi, Red) tersimpan misteri hayati yang besar. LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro) berkolaborasi dengan Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban kini tengah melakukan kajian mendalam untuk mengungkap bagaimana ekosistem sungai ini mampu bertahan di tengah paparan hidrokarbon alami.

Riset yang dimulai awal April 2026 ini berfokus pada identifikasi nekton, plankton, dan bentos. Meski air sungai tercampur rembesan minyak dari sistem petroleum dangkal, masyarakat sekitar masih sering menangkap ikan untuk dikonsumsi. Bahkan menggunakan airnya untuk mengairi sawah dengan kondisi tanaman yang tampak normal. “Secara kasat mata ada lapisan minyak, namun hasil uji laboratorium menunjukkan parameter oil & grease masih di bawah baku mutu air kelas 3 yakni 0,417 mg/L. Ini menarik, ada dugaan adanya agen biologi alami yang membantu menurunkan kandungan minyak di sana,” ungkap Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., Senin (13/4/26).

RISET MENDALAM: LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro) berkolaborasi dengan Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban kini tengah mengkaji keanekaragaman hayati di Sungai Kedunglantung, Drenges, Sugihwaras.

Tim peneliti yang terdiri dari 11 personel gabungan dosen dan mahasiswa ini menduga adanya mekanisme adaptasi fisiologi khusus pada ikan-ikan di Kedunglantung. Fenomena ini berpotensi menjadi temuan penting di bidang bioteknologi dan konservasi jika terbukti terjadi mutasi genetik atau adaptasi unik pada organisme tersebut.

Kajian ini merupakan bagian dari program dukungan terhadap Geopark Bojonegoro yang didukung melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Langkah ini diambil untuk menjawab catatan kritis tim asesor UNESCO yang sebelumnya menyoroti minimnya data ilmiah yang mengintegrasikan aspek geologi dengan keragaman hayati atau bio-diversity. “Data ini akan menjadi fondasi bagi edutourism. Wisatawan tidak hanya datang melihat minyak, tapi belajar tentang ketahanan ekosistem. Jika ditemukan spesies unik, kita akan lanjutkan hingga uji sekuensing DNA di level molekuler,” papar Laily.

Temuan awal ini diharapkan menjadi pemantik untuk Pemkab Bojonegoro. Utamanya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro serta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Bojonegoro untuk menjadikan Kedunglantung sebagai prioritas riset.

Laily melanjutkan, kolaborasi multipihak sangat diperlukanuntuk pemantauan kualitas air berkala dan penanganan sampah plastik di kawasan geosite. “Pengalaman Bojonegoro dalam menjaga anggrek larat hijau atau Dendrobium capra di Gondang sebagai habitat alami terakhir di dunia, menjadi bukti bahwa wilayah ini menyimpan kekayaan hayati langka. Kami berharap kepada multi-stakeholder agar memberikan dukungan pendanaan riset yang berkelanjutan di berbagai situs. Mengingat, pengakuan UGGp bukan sekadar tentang keindahan visual. Melainkan tentang sejauh mana sebuah wilayah mampu mendokumentasikan kekayaan ilmiahnya bagi dunia internasional,” tandas dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro. (din)