Bahas Irigasi Pertanian, Kepala Dinas PU SDA Bojonegoro Jadi Dosen Praktisi di Unigoro

BOJONEGORO – Prodi Agribisnis Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Fakultas Pertanian Unigoro, pada Selasa (11/6/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema Manajemen Pengolahan Air untuk Penyediaan Irigasi Pertanian. Prodi tersebut menghadirkan Ir. Heri Widodo, M.Si., selaku Kepala Dinas PU dan Sumber Daya Air (SDA) Bojonegoro sebagai dosen praktisi.

Di hadapan para mahasiswa, Heri menekankan bahwa konsep manajemen air harus satu kesatuan. One manage, one plan, one river. Ada banyak tantangan dalam pengelolaan SDA di Bojonegoro. Antara lain alih fungsi lahan, peningkatan jumlah penduduk, eksploitasi SDA berlebihan, serta perubahan iklim. Pengolaan SDA Terpadu (PSDAT) dinilai menjadi konsep yang tepat untuk diterapkan di Kota Ledre. “PSDAT harus diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, berwawasan lingkungan hidup, dan berkelanjutan. Pengelolaan terpadu adalah suatu proses yang mempertimbangkan kepentingan semua pengguna air secara bersama,” terangnya.

Heri memaparkan, irigasi dan drainase memiliki perbedaan yang signifikan. Irigasi adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan usaha mendapatkan air untuk keperluan pertanian. Mulai dari perencanaan, pembuatan, pengelolaan, dan pemeliharaan saran untuk mengambil air secara teratur dan membuang kelebihan air yang tidak diperlukan. Proses pembuangan air menggunakan sarana drainase. “Sedangkan sistem irigasi adalah keterpaduan secara menyeluruh dari elemen irigasi yang saling berhubungan baik untuk mencapai suatu tujuan irigasi. Berdasarkan PP Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi, ada lima komponen yang mendukung sistem irigasi. Air, prasarana, manajemen, kelembagaan pengelolaan irigasi, serta SDM,” paparnya.

Jenis-jenis irigasi yang diterapkan di Indonesia antara lain irigasi permukaan, irigasi pompa, irigasi rawa, irigasi tambak, dan irigasi air bawah tanah. Heri menjelaskan, penyusunan rencana pengembangan dan pengelolaan irigasi (RP2I) harus diawali dengan menganalisis peta topografi dan demografi daerah aliran sungai (DAS). “Peta topografi DAS Bengawan Solo yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda ternyata masih digunakan sampai saat ini. dari peta topografi dan demografi tersebut kita bisa menyusun RP2I seusuai dengan karakterisrik daerah masing-masing,” jelas pejabat eselon II ini.

Mahasiswa prodi Agribisnis Unigoro tampak antusias dengan topik kuliah praktisi kali ini. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi tentang sistem irigasi pertanian di Kabupaten Bojonegoro. (din)