Ketua Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro Bahas Konsep Pembangunan Kota Kreatif

BOJONEGORO – Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Fakultas Ekonomi Unigoro, pada Kamis (28/3/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema Konsep Pembangunan Kota Kreatif. Prodi tersebut menghadirkan Guntur Gilang selaku Ketua Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro sebagai dosen praktisi.

Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan Unigoro, M. Syaiful Anam, SE., MM., menuturkan, industri kreatif menjadi topik yang banyak diperbicangkan belakangan ini. Sehingga perlu dihadirkan praktisi ekonomi kreatif untuk menambah wawasan mahasiswa. “Beliau (Guntur Gilang) adalah pelopor ekonomi kreatif di Bojonegoro. Semoga kita bisa mendapatkan wawasan seperti apa konsep pembangunan kota kreatif itu,” tuturnya.

Di hadapan mahasiswa, Gilang mengapresiasi Unigoro yang memfasilitasi beasiswa untuk influencer. Artinya, kampus ini juga ingin menjadi bagian dari industri kreatif. Dia menjelaskan, Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro merupakan lembaga non struktural yang dibentuk Bupati untuk koordinasi, integrasi dan sinkronisasi, serta merekomendasikan pengambilan kebijakan ekonomi kreatif. “Kabupaten Bojonegoro telah menjadi bagian dari UCCN (UNESCO Creative Cities Network). Berjejaring dengan kota-kota di seluruh dunia dalam hal kreatif,” jelasnya.

Gilang melanjutkan, kota atau kabupaten sebagai ruang lingkup kreativitas bisa memfasilitasi aktivitas kreatif sekaligus menjadi lumbung hasil kreativitas masyarakatnya. Dia mencontohkan, daerah-daerah yang me-branding sebagai kota kreatif kini berupaya mewujudkan ekosistem kreatif terlebih dulu. “Peran warga lokal tidak sekedar untuk mengorganisir event. Karena ekonomi kreatif tidak satu bidang. Tapi harus melibatkan semua pihak. Misalnya di sebuah destinasi wisata yang jadi tour leader-nya warga setempat. Lalu guest house-nya di rumah penduduk asli. Kalau butuh konsumsi, kita bisa minta sediakan ibu-ibu di sana untuk memasak. Dari aktivitas seperti ini, berapa banyak perputaran uangnya untuk masyarakat?” paparnya.

Ada sepuluh prinsip kota kreatif yang diterangkan oleh Gilang. Antara lain welas asih, inklusif, melindungi HAM, memuliakan kreativitas, lingkungan yang Lestari, memeliharan kearifan dan semangat pembaharuan, transparan, memenuhi kebutuhan dasar, memanfaatkan energi terbarukan, serta menyediakan fasilitas umum yang layak. Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro telah memberi beberapa rekomendasi bagi Pemkab Bojonegoro. Di antaranya pemetaan pelaku ekonomi kreatif sebagai database, riset pariwisata dan ekonomi kreatif melibatkan kampus yang ada di Bojonegoro, sertifikasi kompetensi untuk pelaku ekonomi kreatif, dan sebagainya. “Ekonomi kreatif tidak bisa satu bidang. Ada 17 sektor ekonomi kreatif yang harus kita manfaatkan dengan baik,” tukas Gilang. (din)