Mahasiswi FISIP Unigoro Ikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di NTT

BOJONEGORO – Khilmy Fawaidati, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bojonegoro (Unigoro), terpilih mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM). Kini dara asal Desa Trate, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro itu menimba ilmu di Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur. PMM merupakan implementasi dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kemendikbud.

Khilmy menuturkan, alasan utama mengikuti PMM adalah untuk menambah pengalaman dengan merasakan pembelajaran di universitas yang berbeda. Sekaligus memperluas pertemanan lintas budaya. Tidak mudah bagi Khilmy untuk lolos program PMM. Sebab seleksinya ketat. “Seleksinya yakni wajib melengkapi dokumen-dokumen yang dintentukan.  Kemudian jika dokumen terpenuhi, mahasiswa harus mengikuti tes kebhinekaan dan tes VCAT (Value Clarification and Attitude Transformation),” tuturnya pada Jumat (1/3/24).

Nama mahasiswa yang lolos PMM diumumkan pada 22 Desember 2023. Setelah mengetahui namanya lolos, Khilmy mengikuti pembekalan dari Undana sekaligus menunggu jadwal keberangkatan. Meskipun tidak ada teman se almamater, dia tidak merasa minder. Ada 32 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur yang lolos PMM di Undana. “Undana hanya menerima 281 mahasiswa dari 2172 mahasiswa se Indonesia yang mendaftar,” ujarnya.

Selama di Kupang, Khilmy aktif mengikuti banyak kegiatan. Seperti menjalani perkuliahan di prodi ilmu administrasi negara sesuai jadwal, serta kegiatan Modul Nusantara setiap pekan. Modul Nusantra berisi kelompok-kelompok mahasiswa inbound Undana yang melakukan berbagai kegiatan sosial, kebhinekaan, dan mengenal NTT lebih dekat. PMM di Undana berlangsung hingga 30 Juni 2024 mendatang sesuai dengan kalender akademik.

Mahasiswi berusia 21 tahun ini mengungkapkan banyak hal mengesankan dan menarik selama mengikuti PMM di Kupang. Khilmy mendapatkan kawan dari latar belakang suku, budaya, pulau, dan kampus yang berbeda-beda. Secara tidak langsung, dia bisa belajar keanekaragaman bahasa dan budaya. “Selain itu saya bisa mengenal Kupang dengan bahasanya yang unik. Dan dengan kegiatan Modul Nusantara, saya bisa mengelilingi penjuru NTT. Tapi yang paling mengesankan ketika mengikuti beberapa mata kuliah yang sekelas dengan mahasiswa Undana. Tapi di kelas itu hanya saya mahasiswa dari luar (Jawa),” ungkapnya bangga.

Khilmy berharap, dia memperoleh banyak manfaat akademik maupun non akademik selama mengikuti program PMM MBKM ini. Terutama dalam mengaplikasikan wawasan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. (din)