MENGULAS SEJARAH TERBENTUKNYA GERAKAN MAHASISWA DI ERA SUKARNO

bem-ui-tak-turun-aksi-20-mei-rev1

Oleh: Handhis Firmansyah

 

Mahasiswa sering diartikan secara luas diambil dari potongan kata Maha dan Siswa, yang memiliki arti Maha adalah yang lebih tinggi dan siswa adalah seseorang yang menempuh didalam pendidikan. Kita awali dengan menarik ke belakang dalam sejarah gerakan mahasiswa di era presiden pertama Republik Indonesia sukarno. Di era pasca kemerdekaan dari situ di barengi munculnya suatu organisasi di kampus yang diawali di Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogjakarta yang sekarang berubah namanya menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang di motori oleh Lafran Pane Mahasiswa dari Fakultas Hukum yang baru tingkat I (Semester 1). Ia mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya mengenai gagasan membentuk organisasi mahasiswa bernapaskan Islam dan setelah mendapatkan cukup dukungan, akhirnya terbentuklah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 14 rabiul awal 1366 H atau pada 05 Februari 1947. Dari terbentuknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Didasari oleh 4 faktor utama yang meliputi Situasi Dunia Internasional, Situasi NKRI, Kondisi Mikrobiologis Ummat Islam di Indonesia, Kondisi Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan.

Selain itu di tahun yang sama munculah organisasi baru yaitu Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang didirikan melalui kongres mahasiswa di Malang. Lalu setelah itu pada tanggal 23 Maret 1954 terbentuknya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Organisasi ini terjadi dari peleburan antara 3 organisasi, yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis (GMM) yang berpusat di Yogjakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka  yang berpusat di Surabaya , Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) yang berpusat di Jakarta. Sebagai organisasi gerakan perjuangan atau organisasi kaum Nasionalis, GMNI memiliki azas perjuangan sebagai dasar perjuangannya yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 , dan Marhaenisme.

Setelah itu juga munculah lagi Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (GAMSOS) yang lebih cendrung dengan ideologi Sosialisme Marxist dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang lebih berpandangan komunisme sehingga cenderung lebih dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Pada tahun 1955 PKI (Partai Komunis Indonesia) berhasil memenangkan pemilu di indonesia, maka dari itu imbasnya organisasi CGMI lebih menonjol paling banyak aktif di bandingkan dengan organisasi lainnya. Namun justru hal inilah yang menjadi cikal bakal perpecahan pergerakan mahasiswa pada saat itu. Secara terus terang CGMI menjalankan politik yang ada di PKI. Hingga terjadi adanya suatu propaganda antara CGMI kepada organisasi yang bertentangan dengan ideologi mereka. Mereka melakukan politik pencitraan negatif yang terus dibombardir oleh CGMI dan PKI terutama kepada HMI. Dengan di bombardirnya serangan yang terus dilakukan oleh CGMI melalui media surat kabar dll kepada organisasi yang bertentangan dengan ajarannya,  akhirnya beberapa organisasi mahasiswa yang terdiri dari HMI, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), PMKRI, PMII, Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI), mereka sepakat untuk membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan tujuan agar melancarkan serangan terhadap PKI agar lebih terpimpin dan rapi. KAMI yang di pelopori oleh PB HMI Ma’arie moehammad dan juga organisasi lainnya melakukan penentangan terhadap PKI dan ideologi komunisnya yang mereka anggap sebagai bahaya laten negara dan harus dibasmi. Dari serangan inilah munculah nama sebagai gerakan angkatan ’66 yang di karenakan semangat kolektifitas mahasiswa secara nasional untuk membasmi PKI.

Namun setelah berakhirnya orde lama semangat mereka mulai terkurangi untuk menghancurkan dan membasmi PKI, karena mereka telah disediakannya disediakan kursi MPR dan DPR serta diangkat menjadi pejabat pemerintahan pada orde baru. Pada tahun 1966 KAMI dan pengikut organisasi yang lain menggugat penuh pemerintahan Sukarno dan kabinetnya karena telah dianggap menyimpang dari cita – cita kemerdekaan 1945. Mereka menggugat 3 tuntuan kepada pemerintahan Presiden Sukarno dan mentri kabinetnya atau bisa disebut TRITURA (tiga tuntutan rakyat). Dari tiga isi tersebut adalah

Bubarkan PKI beserta ormas – ormasnya.

Perombakan kabinet DWIPORA.

Turunkan harga dan perbaiki harga sandang dan pangan.

18 januari 1966 delegasi dari KAMI menemui Presiden Sukarno, dalam hal ini mereka menyampaikan tuntutan nya. Tetapi dalam tuntutan itu Presiden Sukarno marah besar kepada mahasiswa yang menuntut adanya TRITURA tersebut. Presiden Soekarno mengatakan bahwa para mahasiswa sudah ditunggangi oleh Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Karena Presiden Sukarno terus marah – marah, para peserta pertemuan satu persatu melakukan reaksi dan akhirnya Presiden Soekarno kewalahan. Lalu sambil menoleh kepada Roeslan Abdoelgani, Soekarno berkata, “Roeslan, mereka ini belum mengerti revolusi. Bawa mereka dan ajar tentang revolusi”. Katanya. (dalam OC Kaligis – Rum Aly, Simtom Politik 1965, Kata Hasta, 2007).

Akhirnya selesai sudah pertemuan yabg dilakukan oleh Mahasiswa dan Presiden Sukarno. Namun dari ketiga tuntutan tersebut Presiden belum ada putusan tentang TRITURA. Setelah itu, banyak dari organisasi KAMI yang melakukan aksi demomstran itu terus menuntut TRITURA agar segera disetujui. Pada tanggal 21 Februari 1966 Presiden Soekarno mengumumkan reshuffle kabinet. Dalam kabinet itu duduk para simpatisan PKI. Kenyataan ini menyulut kembali mahasiswa meningkatkan aksi demonstrasinya. Tanggal 24 Februari 1966 mahasiswa memboikot pelantikan menteri-menteri baru. Dalam insiden yang terjadi dengan Resimen Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden Soekarno, seorang mahasiswa Arif Rahman Hakim meninggal. Dari situ Presiden Sukarno marah besar dan pada tanggal Pada tanggal 25 Februari 1966 Presiden Sukarno mengeluarkan surat pembubaran KAMI.

Setelah adanya pembubaran KAMI bukan malah tenang dan damai namun para mahasiswa dan organisadi lain tetap melancarkan aksinya menuntut tritura. Akhirnya dari situ diikuti keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang bisa disebut (Supersemar) oleh Presiden Soekarno yang memerintahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Meskipun itu pemerintahan Presiden Sukarno tetap dilucuti, dan puncaknya pada tanggal 1 Juli 1966, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden berdasarkan Tap MPRS No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967. Selaku pemegang Ketetapan MPRS No XXX/1967, Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno. Melalui Sidang Istimewa MPRS, pada 7 Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR.

You may also like...