Ungkap Potensi Gempa di Jatim, Pengamat Stasiun Geofisika BMKG Pasuruan Jadi Dosen Praktisi di Unigoro

BOJONEGORO – Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Fakultas Sains dan Teknik Unigoro, pada Selasa (11/6/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema Tatanan Tektonik dan Sumber Gempa di Indonesia. Prodi tersebut menghadirkan Syawaldin Ridha, S.Si., M.Si., pengamat meteorologi dan geofisika Stasiun Geofisika BMKG Pasuruan sebagai dosen praktisi.

Di hadapan para mahasiswa, pria yang akrab disapa Syawal ini menerangkan, wilayah Indonesia sangat rawan gempa bumi dan tsunami. Kabupaten Bojonegoro juga berpotensi terjadi gempa bumi. Sumber gempa bumi di Jawa Timur berada di Samudra Hindia Selatan. Di sana terdapat zona subduksi lempeng. “Selain itu, di daratan Jawa Timur juga terdapat sebaran beberapa sesar aktif,” terangnya.

Syawal memaparkan, ada tujuh sesar atau patahan aktif di Jawa Timur. Sesar Naik Pati, Sesar Kendeng yang terbagi lagi menjadi enam segmen, Sesar Pasuruan, Sesar Probolinggo, Sesar Wongsorejo, Zona Sesar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala), dam Bawean Fault. Berdasarkan data BMKG, terdapat loncatan aktivitas kegempaan selama lima tahun terakhir. Sehingga potensi kejadian gempa bumi cenderung meningkat. “Hal inilah yang mendorong BMKG membuat rekomendasi ke pemerintah daerah agar upaya mitigasi bencana perlu segera ditingkatkan,” paparnya.

Sejarah gempa bumi merusak di Jawa Timur tidak hanya terjadi di wilayah Selatan. Wilayah Jawa Timur Utara juga pernah mengalami kejadian serupa berdasarkan catatan sejarah gempa bumi merusak. “Pelajaran yang bis akita ambil, ancaman gempa di Jawa Timur tidak hanya berasal dari selatan akibat subduksi lempeng atau megathrust. Tetapi juga dari sesar aktif di daratan dan laut utara Jawa Timur,” ungkap Syawal.

Saat ini, BMKG tengah menyiapkan Earthquake Warning System (EWS) sebagai alat respon cepat terjadinya gempa bumi. Rencananya, alat EWS akan diterapkan di Indonesia pada 2030. “Jepang dan Thailand sudah menggunakan EWS. Tapi bukan untuk mendeteksi kapan ada gempa. Alat respon cepat,” imbuhnya.

Syawal menyarankan, setiap lembaga perguruan tinggi harus memiliki SOP ketika terjadi gempa bumi. Sehingga bisa melakukan mitigasi bencana sedini mungkin. “Jangan lupa untuk merawat lingkungan sekitar. Salah satu dampak gempa bumi adalah tanah longsor. Kalau kondisi tanahnya bagus, peristiwa gempa bumi tidak akan disertai dengan tanah longsor,” tukasnya.

Mahasiswa prodi Ilmu Lingkungan Unigoro tampak antusias dengan topik kuliah praktisi kali ini. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi tentang peristiwa gempa bumi di Indonesia. (din)