Unigoro Bakal Dirikan Pusat Studi Riset

BOJONEGORO – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar Sharing Session Penyusunan Rencana Induk Penelitian (RIP) di Ruang Adu Ide, pada Selasa (27/2/24). Forum ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ir. Adi Suprijanto, MT., selaku Wakil Rektor I Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., menerangkan, tujuan utama sharing session ini untuk menyusun RIP yang baru agar sesuai dengan jumlah prodi, acuan isu strategis nasional, dan sebagainya. “Makanya kita undang Prof. Adi untuk membantu kita. Istilahnya benchmarking. Dulu RIP kita susun apa adanya. Inginnya kita lebih bagus dan lebih aplikatif,” terangnya.

Di hadapan para hadirin, Prof. Adi menekankan, Unigoro harus menentukan fokus penelitian. Tidak perlu ndakik-ndakik (rumit, Red), simpel, masuk akal, bisa diterapkan dengan mudah. Jangan sampai terlalu rumit dan tidak aplikatif. Beliau juga menyarankan agar kampus ini mendirikan pusat studi riset. LPPM Unigoro berserta kaprodi dan perwakilan dosen menyepakati empat fokus penelitian. Yakni pangan, sumber daya air, energi, dan pariwisata. “Fokus ini diambil dari potensi Bojonegoro yang bisa digarap apa? Karena riset yang paling bagus selain menyelesaikan masalah di sekitar, juga harapannya bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis. Istilahnya revenue generating. Membangkitkan perekonomian,” tutur Laily.

Wanita yang juga dosen prodi ilmu lingkungan Unigoro ini menjelaskan, di bidang pangan Bojonegoro punya potensi sebagai lumbung pangan. Riset di sektor pertanian dan perkebunan nanti bisa dimasukkan ke bidang pangan juga. Di tingkat nasional, pangan menjadi isu strategis nasional yang selalu diperbincangkan. Di bidang sumber daya air, air adalah kebutuhan utama manusia. Di bidang energi, civitas akademika Unigoro bisa mengkaji industri migas di Bojonegoro serta energi tak terbarukan, energi baru dan terbarukan. Sedangkan di bidang pariwisata, Bojonegoro punya banyak desa wisata. Tapi belum optimal untuk dikembangkan. “Dan itu jadi peluang bagi kita,” jelasnya.

Menanggapi saran dari Prof. Adi, Laily sepakat jika Unigoro harus memiliki pusat studi riset. “Arahnya kalau sudah ditentukan topik unggul penelitian, nanti langsung jadi pusat studi riset di bidang itu. Jadi akan ada empat pusat studi riset juga di Unigoro,” pungkasnya. (din)