Unigoro Punya Dosen Poliglot, Kuasai Lima Bahasa Asing

BOJONEGORO – Faridatul Istighfaroh, S.Pd., M.Pd., adalah dosen Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang menguasai banyak bahasa asing atau yang disebut poliglot. Total ada lima bahasa asing yang bisa dituturkan dan diajarkan oleh perempuan yang akrab disapa Miss Farida ini. Yakni bahasa Inggris, Jerman, Korea, Mandarin, dan Jepang. Lantas apa rahasianya menjadi seorang poliglot? Berikut petikan wawancara Miss Farida dengan redaktur website Unigoro.

 

Redaktur (R): Sejak kapan anda memiliki ketertarikan dengan bahasa asing?

Farida (F): Dari dulu sudah tertarik dengan bahasa selain Indonesia. Waktu masih MTs pernah ikut lomba pidato Bahasa Arab se Kabupaten Bojonegoro dan dapat juara kedua. Lalu dilanjut lagi sambil menunggu pengumuman kelulusan di MA, saya memutuskan untuk belajar bahasa asing lain. Awalnya Bahasa Korea karena saya suka K-Pop. Sama belajar Bahasa Jepang dan Mandarin.

R: Jadi sekarang sudah menguasai berapa bahasa?

F: Inggris, Mandarin, Pepang, Korea, dan Jerman. Arab dan Perancis juga bisa, tapi belum punya sertifikat untuk mengajar kedua bahasa tersebut.

R: Lalu bagaimana caranya bisa mempelajari tujuh bahasa asing sekaligus?

F: Semua dipelajari secara otodidak di rumah. Kalau dulu saya download materi-materi tentang percakapan sehari-hari menggunakan berbagai bahasa di warnet dan di-print sekalian. Sampai rumah materinya ditempelin di kamar dan dibaca. Saya juga baca buku-buku bahasa asing. Kebetulan saya suka meringkas dan belajar dari catatan sendiri. Jadi speaking, writing, dan listening bisa dipelajari sekaligus.

R: Pernah dapat beasiswa course dan ambil sertifikasi di mana saja?

F: Kalau bahasa Inggris banyak sertifikatnya. Yang bahasa Jerman, saya dapat beasiswa course sekitar enam atau delapan bulan. Kemudian dapat sertifikat B-1 di Goethe-Institut. Sedangkan yang bahasa Korea, saya ikut tes bahasa di UGM (Universitas Gadjah Mada). Lalu dapat sertifikat TOPIK bahasa Korea.

R: Ketika bisa menguasai beberapa bahasa asing, apa tidak sulit saat switch (beralih, Red) bahasa?

F: Pernah dong. Itu istilahnya language mixture. Terutama ketika ngomongin bahasa serumpun seperti Jepang, Mandarin, dan Korea. Lidahnya sering belibet. But, its okay tanda otaknya bilingual atau multilingual memang seperti itu. Sering belibet.

R: Hingga saat ini, total ada berapa negara yang sudah pernah dikunjungi Miss Farida?

F: Ada empat. Pertama berangkat ke Korea Selatan dulu karena ikut Korean Cultural Camp 2016. Lalu setahun kemudian ikut program AU Pair di Jerman. Awalnya yang di Jerman dapat tawaran studi. Namun kita harus magang dulu di program AU Pair. Nah, AU Pair ini menjadi gerbang bagi scholarship hunter (pemburu beasiswa, Red) untuk masuk ke negara-negara Eropa. Kemudian tahun 2018, ikut program AU Pair juga di Belanda. Terakhir di Amerika Serikat tahun 2020 dan 2021, ikut program Fulbright Foreign Languange Teaching Assistant. Saya justru ngajari mahasiswa-mahasiswa di Amerika Serikat bahasa Indonesia. Sampai sekarang pun saya juga masih ngajar mahasiswa asing di kelas-kelas online untuk program Pre-Departure Language Class. Contohnya ada mahasiswa dari Rusia pingin kuliah di Jepang. Nah, kita belajar bahasa Jepangnya di kelas online.

R:  Tahun 2021, Miss Farida mendirikan Unigoro Scholarship Hunter. Sebenarnya apa motivasinya?

F: Simpel saja. Kita ingin Unigoro go international. Mahasiswa yang sudah bagus kualitas bahasa Inggrisnya kita kumpulkan dan diarahkan untuk ikut program-program internasional. Seperti student exchange, magang di luar negeri, beasiswa, maupun kompetisi internasional.

R: Saat ini ada berapa mahasiswa yang tergabung dalam Unigoro Scholarship Hunter?

F: Ada 17 mahasiswa. Empat di antaranya sudah pernah ikut program-program internasional. Seperti Terry dari prodi kimia yang ikut International Youth Camp di Bali. Lalu Lusiana dari prodi teknik sipil dan Fita dari prodi administrasi publik ikut seleksi Global Undergraduated Exchange di Amerika Serikat. Walaupun mereka hanya bisa sampai tahap interview. Terakhir ada Danar dari prodi administrasi publik ikut program student exchange yang diselenggarakan oleh US Consulate General Surabaya. Kita berharap ada kabar positif dari hasil seleksi tersebut.

R: Unigoro punya banyak mahasiswa yang berpotensi go international. Selain harus menguasai bahasa asing, apa tantangan yang dihadapi Miss Farida selaku pembina Unigoro Scholarship Hunter?

F: Membangkitkan rasa percaya diri. Terkadang mahasiswa masih merasa minder ketika dihadapkan dengan scholarship hunter dari kampus lain. (din)