BOJONEGORO – Prodi agribisnis Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Mayor Sogo Unigoro, Kamis (19/12/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema pemasaran produk sarana produksi pertanian. Prodi tersebut menghadirkan Eko Hadi Susanto, SP., dari PT. Agricon Sentra Agribisnis Indonesia sebagai praktisi.
Dosen agribisnis Unigoro, Ir. Masahid, MM., menuturkan, kuliah praktisi merupakan program wajib untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Khususnya untuk penerapan ilmu di dunia kerja. “Karena ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan praktik akan sia-sia. Sedangkan praktik tanpa disertai ilmu pengetahuan akan berisiko gagal,” tuturnya.
Eko yang juga alumni Fakultas Pertanian Unigoro angkatan 2007, membagikan tips-tips memasarkan produk pertanian. Sebelum terjun sebagai agronomis, mahasiswa harus memiliki softskill yang mumpuni untuk berinteraksi dengan petani. “Public speaking sangat penting. Di lapangan kita akan bertemu para petani dan cara memasarkan produk ada triknya tersendiri. Lalu jika tidak berminat di lapangan, kalian juga bisa menjadi digital marketer. Memasarkan produk pertanian di marketplace. Sekarang eranya seperti itu,” terangnya.
.jpg)
INSPIRATIF: Eko Hadi Susanto, SP., alumni Fakultas Pertanian Unigoro, membagikan pengalamannya sebagai agronomis dan manajer pemasaran.
Eko melanjutkan, ada empat strategi utama untuk meningkatkan penjualan produk pertanian. Pertama, meningkatkan pemahaman pasar. Kedua, mempelajari jalur distribusi barang, pengoptimalan, serta pemanfaatan program. Ketiga, menguatkan, menciptakan, dan mempertahankan produk. Keempat, monitoring dan evaluasi perbaikan strategi. “Pemahaman pasar itu dimulai dari kita harus mengetahui potensi komoditas pertanian, peta tanam, dan jadwal tanam di suatu wilayah itu kapan. Lalu menelusuri jalur distribusi produk dan sebaran produk dari kompetitor ke mana saja. Selanjutnya menguatkan jaringan pemasaran, tim, dan para petani binaan,” paparnya.
Pria asli Jember ini juga membeberkan strategi jalur distribusi produk kepada mahasiswa agribisnis Unigoro. Di antaranya memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi serta mengembangkan potensi serapan di retailer yang sudah ada. Menurut Eko, promosi produk pertanian harus bersifat sustainable, efektif, dan terukur berdasarkan potensi wilayah maupun peta tanam. “Disesuaikan dengan kultur daerah setempat. Misalnya sebelum musim tanam, kami pernah membuat event balap traktor di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ini jadi kesempatan untuk memunculkan brand image produk,” jelas Eko.
Terakhir, Eko berpesan kepada mahasiswa untuk senantiasa tanggap dan segera mencari solusi alternatif jika ada kendala dalam pencapaian target penjualan. “Kalau ada yang komplain, kita jangan buru-buru menyalahkan costumer. Beri solusi yang terbaik,” pungkasnya. (din)
