Dosen Teknik Kimia UGM Beberkan Pemanfaatan FTIR dalam Analisis Non Preparatif di Unigoro

BOJONEGORO – Prodi Kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung H Fakultas Sains dan Teknik (Saintek) Unigoro, Selasa (12/5/26). Kuliah praktisi kali ini membahas tentang Pemanfaatan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dalam Analisis Non Preparatif. Dengan menghadirkan narasumber Nilats Tsurayya, S.Pd., M.Sc., selaku dosen Prodi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Nilats, instrumen FTIR adalah alat analisis kimia yang digunakan untuk mengidentifikasi ikatan kimia dengan cara mengukur interaksi antara sinar inframerah dan sampel. Sehingga menghasilkan spektrum yang menunjukkan gugus fungsi dalam suatu sampel.

FTIR dapat digunakan sebagai analisis non preparasi menggunakan metode Attenuated Total Reflectance (ATR). Metode ATR memiliki kekurangan dan kelebihan. “Kelebihannya cepat dan praktis hanya satu atau dua menit saja. Sehingga tidak perlu pelarutan atau preparasi yang kompleks serta tidak merusak sampel. Kekurangannya metode ini bergantung pada kontak sampel dengan kristal. Sensitivitas terbatas dan kurang cocok untuk analisis kuantitatif tanpa kalibrasi,” paparnya.

Langkah interpretasi dimulai dari identifikasi puncak utama, analisis fingerprint region, membandingkan dengan library, serta memperhatikan pergeseran dan intensitas.

Nilats melanjutkan, FTIR sejatinya merupakan alat untuk identifikasi awal yang cepat. Namun tetap bergantung pada kualitas sampel, ketelitian operator, serta kemampuan interpretasi. “FTIR bukan hanya soal alat, tapi soal pemahaman spektrum,” pungkasnya.

Kuliah praktisi yang dimoderatori oleh Dyah Setyaningrum, S.Si., M.Sc., berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi Kimia Unigoro memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi dengan praktisi tentang pemanfaatan FTIR. (din)