Dua Situs Dampingan Unigoro Jadi Sorotan dalam Pre Assessment UNESCO Geopark Bojonegoro

BOJONEGORO – Dua situsdampingan Universitas Bojonegoro (Unigoro), yakni geosite Kedung Lantung dan biosite Hutan Jati Gondang menjadi titik penting dalam rangkaian Pre Assessment Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro yang berlangsung pada 18 hingga 19 Juni 2026. Kedua situs tersebut dinilai mampu merepresentasikan kekuatan utama Geopark Bojonegoro melalui hubung kait geologi, keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LPPM), Unigoro berperan aktif sebagai mitra teknis dalam pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro. Mulai dari riset, penyusunan narasi ilmiah, konservasi biodiversitas, hingga pendampingan masyarakat.

Di geosite Kedung Lantung, Unigoro menjadi mitra Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). “Melalui program ini, kawasan Kedung Lantung memperoleh dukungan berupa pengembangan infrastruktur, penguatan Pokdarwis, pelatihan pemandu, serta penyusunan materi interpretasi,” terang Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., Senin (22/6/26).

Saat ini, Kedung Lantung menjadi salah satu geosite unggulan karena menampilkan sistem petroleum yang dapat diamati secara langsung. Di area ini hubungan antara source rock, reservoir rock, dan cap rock dapat dijelaskan melalui fenomena rembesan minyak alami atau oil seepage. “Gilar-gilar minyak ini muncul akibat rekahan batuan penutup yang terbentuk oleh aktivitas tektonik jutaan tahun lalu. Karena massa jenis minyak lebih rendah dibanding air, minyak bermigrasi ke permukaan dan membentuk rembesan alami yang masih aktif hingga saat ini,” imbuhnya.

Dr. Ir. Rudy Suhendar, M.Sc. dari Dewan Pakar Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI) mengapresiasi kemajuan Kedung Lantung yang dinilai semakin siap merepresentasikan tema Petroleum System on Land. Melalui penataan kawasan, penguatan narasi interpretasi, sertapeningkatan infrastruktur. Dia juga menilai dukungan EMCL melalui program CSR telah memberikan kontribusi nyata dalam percepatan pengembangan situs. “Kami berharap seluruh pekerjaan yang masih berlangsung dapat dituntaskan sebelum penilaian UNESCO pada 27 Juli 2026 mendatang. Sehingga Kedung Lantung dapat tampil optimal di hadapan evaluator internasional,” ujarnya.

Hal senada disampaikan secara terpisah oleh Slamet Rijadi, perwakilan EMCL. Pihaknya menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung Pemkab Bojonegoro dalam persiapan menuju UNESCO Global Geopark. Menurutnya, berbagai pekerjaan infrastruktur yang sedang berjalan akan diupayakan selesai sebelum asesmen UNESCO berlangsung. (din)

Biosite Hutan Jati Gondang: Tunjukkan Hubungan Erat antara Geologi dan Keanekaragaman Hayati

HUTAN PENDIDIKAN DAN LABORATORIUM ALAM: Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., memaparkan keanekaragaman hayati biosite Hutan Jati Gondang.

Selain Kedung Lantung, perhatian tim pre assessment juga tertuju pada biosite Hutan Jati Gondang yang menunjukkan hubungan erat antara geologi dan keanekaragaman hayati.

Ketua LPPM Unigoro sekaligus Tenaga Ahli Keanekaragaman Hayati Tim Teknis Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., menjelaskan Hutan Jati Gondang tumbuh di atas Formasi Klitik yang tersusun oleh batuan pasiran karbonatan dan material vulkanik. Kombinasi batuan yang kaya kalsium, subur, namun cenderung kering tersebut menghasilkan kayu jati Bojonegoro yang terkenal kuat karena memiliki lingkaran tahun yang rapat.

Lebih dari itu, kawasan ini memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Tegakan jati tua bersama Formasi Klitik berperan sebagai “spons raksasa” yang menyimpan dan melepaskan air secara perlahan. “Tercatat sedikitnya 69 mata air dengan total debit mencapai sekitar 1,4 juta liter per hari yang menopang kebutuhan air masyarakat di sekitarnya. Hutan ini juga berkontribusi dalam penyerapan karbon sekaligus membantu mencegah erosi,” ungkap Laily.

Keistimewaan lainnya adalah keberadaan Dendrobium capra atau anggrek larat hijau yang berstatus Endangered (terancam punah, Red). Anggrek ini hanya mampu hidup pada pohon jati tua berusia lebih dari 50 tahun, memiliki masa berbunga yang singkat, serta sangat bergantung pada mikroorganisme tertentu untuk berkecambah. Kerentanan tersebut menyebabkan populasinya terus menurun di habitat alami. “Melalui konsep geopark, konservasi dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melindungi batuan pembentuk habitat, tegakan jati tua, dan anggrek itu sendiri dalam satu kesatuan ekosistem,” papar dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro ini.

Namun demikian, pengembangan biosite Hutan Jati Gondang masih menghadapi kendala administratif. Kawasan yang telah diusulkan sebagai Hutan Pendidikan dan Laboratorium Alam Unigoro melalui kerja sama dengan Perhutani KPH Bojonegoro hingga kini masih menunggu persetujuan dari Perhutani Divisi Regional Jawa Timur.

“Menurut kami, keberadaan hutan pendidikan tersebut sangat penting untuk memperkuat fungsi konservasi, penelitian, edukasi, dan interpretasi geopark menjelang penilaian UNESCO yang tinggal beberapa pekan lagi. Kami berharap persetujuan tersebut dapat segera terbit sehingga berbagai fasilitas pendukung dapat dipersiapkan secara optimal untuk menyambut evaluator UNESCO,” tandas Laily.

Pra assessment ini menunjukkan bahwa Geopark Bojonegoro tidak hanya memiliki warisan geologi yang unik, tetapi juga didukung oleh riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat yang kuat. Melalui pendampingan yang dilakukan Unigoro bersama berbagai mitra, Kedung Lantung dan Hutan Jati Gondang kini menjadi representasi nyata bagaimana ilmu pengetahuan, konservasi, dan pembangunan masyarakat dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark. (din)