BOJONEGORO – Kelompok 13 KKN TK Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar sosialisasi mitigasi bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro di Balai Desa Bobol, Kecamatan Sekar, pada Selasa (29/7/26). Kegiatan yang diikuti oleh masyarakat dan perangkat desa setempat bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi bencana serta kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman kekeringan yang kerap melanda wilayah tersebut.
Ketua Kelompok 13 KKN TK Unigoro, M. Alfiansyah, menjelaskan bahwa pemilihan tema mitigasi bencana didasarkan pada kondisi Desa Bobol yang menjadi salah satu wilayah rawan kekeringan saat musim kemarau. Namun di beberapa titik juga berpotensi mengalami banjir saat curah hujan tinggi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa ingin memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.
“Desa Bobol memiliki kerentanan terhadap kekeringan maupun banjir. Karena itu, kami berinisiatif menggandeng BPBD Kabupaten Bojonegoro agar masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat mengenai langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Kepala Dusun Kaliwekas, Sunarto, mengapresiasi program kerja Kelompok 13 KKN TK Unigoro yang menghadirkan BPBD Kabupaten Bojonegoro sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Menurut beliau, sosialisasi seperti ini sangat dibutuhkan karena memberikan bekal pengetahuan kepada masyarakat mengenai upaya pencegahan dan penanganan bencana. “Terima kasih kepada mahasiswa Kelompok 13 KKN TK Unigoro yang telah mendatangkan BPBD ke Desa Bobol. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai mitigasi bencana dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, ada beberapa wilayah di Desa Bobol yang kerap mengalami kekeringan maupun banjir. Antara lain Dusun Kaliwekas, Kali Klampok, Dawe, serta beberapa kawasan lainnya. Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Perwakilan BPBD Kabupaten Bojonegoro, Arif Hendrianto, menerangkan, mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan akibat bencana. Menurutnya, masyarakat perlu memahami penyebab terjadinya kekeringan sekaligus mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampaknya. “Siklus manajemen bencana terdiri atas tiga tahapan. Yaitu pra bencana, saat bencana, dan pascabencana. Tahap pra bencana meliputi pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan. Tahap saat bencana berfokus pada penanganan tanggap darurat, sedangkan tahap pascabencana mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai upaya pemulihan kondisi masyarakat,” paparnya.
Sosialisasi antara masyarakat Desa Bobol dan BPBD Bojonegoro berlangsung interaktif. Salah satu perangkat desa turut menyampaikan, wilayah Dusun Krajan memiliki sumber air yang relatif dangkal sehingga sering mengalami kekeringan ketika musim kemarau. Menanggapi hal tersebut, Arif menjelaskan, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah mencari sumber mata air dengan debit yang lebih besar serta melakukan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Selain membahas mitigasi bencana, masyarakat juga menyampaikan bahwa Desa Bobol memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Pada musim panen jagung, hasil produksi masyarakat mampu memberikan nilai ekonomi hingga miliaran rupiah. Oleh karena itu, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (din)
