BOJONEGORO – Kelompok 8 KKN TK Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar sosialisasi pemanfaatan limbah bonggol jagung sebagai media tumbuh jamur janggel di Balai Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan, Senin (3/8/26). Kegiatan yang diikuti masyarakat desa setempat merupakan upaya meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian menjadi media budidaya yang bernilai ekonomi. Kelompok 8 KKN TK Unigoro menghadirkan Setyo Wahono Al Irvan dari Fakultas Pertanian Unigoro sebagai narasumber.
Menurut Setyo, Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu daerah penghasil jagung dengan produksi yang tinggi. Namun limbah bonggol jagung masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, bonggol jagung dapat diolah menjadi media tumbuh jamur janggel yang ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi. “Alat dan bahan yang digunakan sangat mudah didapatkan. Media tanam terbuat bonggol jagung, dedak, urea, dan ragi, Lalu dirawat dan didiamkan beberapa hari dengan menjaga kelembapan media melalui penyiraman secara rutin. Hingga jamur mulai tumbuh dan siap dipanen,” paparnya.
Pelatihan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Masyarakat Desa Sumberbendo menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik budidaya, proses perawatan, serta peluang usaha dari pemanfaatan limbah bonggol jagung sebagai media tumbuh jamur.
Di momen yang sama, Kelompok 8 KKN TK Unigoro juga me-launching logo produk SUMBERASA sebagai identitas produk unggulan yang dikembangkan selama pelaksanaan KKN. Produk SUMBERASA merupakan hasil inovasi olahan jamur yang terdiri atas brownies jamur, lumpia jamur, dan dimsum jamur. “Peluncuran logo ini menjadi langkah awal dalam membangun citra produk lokal sekaligus mendukung pengembangan usaha berbasis potensi Desa Sumberbendo,” ungkap Ketua Kelompok 8 KKN TK Unigoro, Surya Akbar Bimantara.
Sebagai rangkaian penutup kegiatan, peserta diajak mencicipi berbagai produk olahan jamur yang telah diproduksi oleh mahasiswa Kelompok 8 KKN TK Unigoro. Produk tersebut mendapat respons positif dari masyarakat karena memiliki cita rasa yang menarik dan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk unggulan desa. (din)
