BOJONEGORO – Sebuah bentang alam tidak hanya menyimpan cerita tentang proses pembentukan bumi, tetapi juga menentukan kehidupan yang tumbuh di atasnya. Berangkat dari pemahaman tersebut, Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama LPPM Universitas Bojonegoro (UNIGORO) menggelar pelatihan “Hubung Kait Geologi dengan Keanekaragaman Hayati dan Keragaman Budaya Lokal” di Balai Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mewujudkan Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark, dengan memperkuat kapasitas pengelola Geosite Kedung Lantung dalam memahami konsep geopark secara utuh. Melalui pelatihan tersebut, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diajak melihat bahwa geologi, biodiversitas, dan budaya bukanlah tiga komponen yang berdiri sendiri, melainkan saling terhubung melalui proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun.
Materi pelatihan menjelaskan bahwa karakteristik geologi memengaruhi terbentuknya bentang alam, sistem hidrologi, jenis tanah, hingga kondisi habitat yang menentukan keberadaan flora dan fauna. Dalam perkembangannya, lingkungan fisik tersebut juga membentuk pola pemanfaatan sumber daya alam, tradisi, serta kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitarnya. Keterkaitan inilah yang menjadi dasar pengembangan kawasan geopark berbasis konservasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Bojonegoro sekaligus Tenaga Ahli Keanekaragaman Hayati Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro, menjelaskan bahwa Kedung Lantung merupakan contoh nyata keterkaitan antara geodiversitas dan biodiversitas. Menurutnya, rembesan minyak bumi alami yang telah berlangsung dalam skala waktu geologi membentuk ekosistem sungai yang unik. “Organisme yang hidup di Kedung Lantung saat ini merupakan spesies yang mampu bertahan terhadap paparan hidrokarbon alami yang terjadi secara kronis dalam waktu yang sangat panjang. Kondisi ini menjadikan Kedung Lantung memiliki nilai ilmiah tinggi sebagai laboratorium alam untuk mempelajari pengaruh proses geologi terhadap terbentuknya ekosistem dan keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro yang menunjukkan bahwa ekosistem Sungai Kedung Lantung masih berada dalam kondisi relatif stabil dengan tingkat keanekaragaman hayati kategori sedang. Penelitian menemukan 49 spesies organisme akuatik di bagian hulu dan tengah sungai serta 45 spesies di bagian hilir. Komunitas nekton didominasi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dengan kelimpahan lebih dari 85 persen, sedangkan komunitas plankton didominasi Oscillatoria sp., Anabaena sp., dan Euglena sp. yang dikenal toleran terhadap lingkungan dengan kandungan bahan organik dan hidrokarbon alami. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Sungai Kedung Lantung tetap mampu mendukung kehidupan berbagai organisme meskipun dipengaruhi oleh rembesan minyak bumi alami, sekaligus memperlihatkan karakter biodiversitas yang khas pada ekosistem ini.
Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, mengatakan bahwa peningkatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dalam mendukung pengelolaan geopark.
“Kami berharap masyarakat tidak hanya mengenal kawasan ini sebagai destinasi wisata, tetapi juga memahami nilai ilmiah dan budaya yang dimilikinya sehingga mampu menjadi bagian dari upaya pelestarian kawasan,” ujarnya.
Bagi peserta pelatihan, pendekatan ini memberikan perspektif baru terhadap potensi Kedung Lantung. Dita, anggota Pokdarwis Desa Drenges, mengaku kini memahami bahwa daya tarik kawasan bukan hanya terletak pada keindahan alamnya.
“Kami belajar bahwa setiap batuan, aliran sungai, hingga organisme yang hidup di dalamnya memiliki cerita ilmiah yang saling berkaitan. Pengetahuan ini akan menjadi modal penting untuk menjelaskan Kedung Lantung kepada pengunjung,” ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, pengelola Geosite Kedung Lantung diharapkan mampu menyampaikan narasi geopark secara lebih komprehensif, sehingga kawasan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai warisan geologi yang membentuk kehidupan dan budaya, sekaligus laboratorium alam yang mendukung konservasi, pendidikan, penelitian, dan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro. (din)
