BPBD Bojonegoro Paparkan Manajemen Bencana Kekeringan di Unigoro

BOJONEGORO – Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Modern Class Fakultas Sains dan Teknik Unigoro, Rabu (2/7/25). Kuliah praktisi kali ini mengangkat topik tentang manajemen tanggap darurat bencana kekeringan. Prodi tersebut menghadirkan Agus Purnomo, SH., selaku Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sebagai praktisi.


Kabupaten Bojonegoro identik dengan isu kebencanaan banjir dan kekeringan. Saat musim kemarau tiba, sejumlah kecamatan terancam bencana kekeringan. Menurut Agus, dibutuhkan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, akademisi dan pakar, pengusaha, serta media massa untuk mengurangi risiko bencana. “Pencegahan dan penanganan bencana tidak bisa dilakukan satu pihak. Setiap unsur punya peran masing-masing. Dari kalangan akademisi, mereka bertugas merancang konsep dan inovasi sesuai kajian ilmu pengetahuan,” tuturnya.


Secara umum, penyelenggaraan penanganan bencana pada tahap darurat diawali dengan pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi kerusakan. Kemudian penetapan status keadaan darurat bencana, penyelamatan dan evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan terhadap kelompok rentan. Sekaligus pemulihan sarana dan prasarana vital.


Agus memaparkan, bencana kekeringan dapat dideteksi sejak dini. Ditandai dengan menurunnya curah hujan di bawah normal dalam satu musim. Ditambah terjadinya kekurangan pasokan air di permukaan dan air tanah. “Setelah dilakukan pengkajian dan penetapan status darurat, kita mulai dropping air bersih di titik-titik yang membutuhkan. Lalu kita lakukan pencarian sumber air terdekat dengan lokasi kekeringan. Kita juga mendata sumber pembiayaan darurat bencana,” paparnya.


Pria yang tinggal di Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro, turut menampilkan peta wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Bojonegoro tahun 2024. Salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Bojonegoro untuk mengantisipasi kekeringan adalah membangun sumur bor. “Pembangunan sumur bor telah dilaksanakan di 17 titik lokasi di Kecamatan Sugihwaras, Purwosari, Tambakrejo, Margomulyo, Kedewan, Sumberjo, Kanor, Sukosewu, Kedungadem, Kepohbaru, Ngasem, Trucuk, dan Malo,” imbuh Agus.

Kuliah praktisi berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi ilmu lingkungan Unigoro antusias tentang manajemen tanggap darurat bencana kekeringan. (din)

Leave a Reply