BOJONEGORO – Prodi ekonomi pembangunan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Hall Suyitno Unigoro, Rabu (18/12/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema kewirausahaan. Prodi tersebut menghadirkan Seto Utoro, S.Sn., selaku owner Batik’e Seto sebagai praktisi.
Kaprodi Ekonomi Pembangunan Unigoro, M. Saiful Anam, SE., MM., menuturkan, kuliah praktisi merupakan program wajib untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dengan belajar dari sang praktisi. Dia mendorong mahasiswa-mahasiswi dari kalangan Gen Z untuk berani mencoba terjun di dunia bisnis. “Stereotip Gen Z saat ini cenderung negatif. Kalian harus membuktikan bahwa itu tidak benar dan kalian juga berhak sukses,” tuturnya.
SINERGITAS: Owner Batik’e Seto dan Kaprodi Ekonomi Pembangunan Unigoro.
Di hadapan mahasiswa, Seto menceritakan lika-likunya dalam berbisnis. Sejak duduk di bangku SMP, dia mengawali dengan berjualan batik. Seto memasarkan batiknya dengan cara mengunggah foto-foto produk di Facebook. “Begitu ada yang komentar, Kak ini harganya berapa, saya langsung meresponnya. Kirim pesan via Messenger, lalu lanjut chat di WA. Hingga akhirnya saya bisa mendapatkan satu costumer,” ujarnya.
Pengusaha asal Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, ini memiliki empat kiat memulai usaha. Pertama, menentukan bidang usaha. Kedua, perencanaan usaha. Ketiga, keunikan. Keempat, kualitas. Serta kelima, pasar dan jejaring.
Menurut Seto menentukan bidang usaha harus selaras dengan kebutuhan dasar manusia, bersifat unik, dan berhubungan dengan hobi. “Tentu yang sering dicari orang-orang adalah sandang, pangan, dan papan. Bidang usaha yang saya tekuni adalah sandang. Siapa sih orang yang tidak pakai batik? Bahkan taplak meja pun ada yang motifnya batik. Ini saya melihatnya sebagai peluang,” ungkapnya.

INTERAKTIF: Kuliah praktisi kewirausahaan diikuti mahasiswa prodi ekonomi pembangunan Unigoro.
Dia melanjutkan, calon pengusaha harus kebal dengan cemoohan orang-orang di sekitar. Seto mengenang, semula batik-batik karyanya dianggap bukan batik khas Jonegoroan. Namun dia tidak terlalu memikirkan komentar negatif yang menerpanya. Seto berdalih, desain motif batiknya memiliki ciri khas tersendiri. Agar mudah diidentifikasi. “Seperti batik yang saya pakai hari ini, motif khayangan api. Orang-orang pasti tidak akan mengira ini batik khayangan api, kok begini? Kemudian dari tone warna Batik’e Seto selalu kecoklatan. Walaupun warnanya hijau, tapi lama-lama bersemu menjadi kecoklatan,” terangnya.
Kuliah praktisi bersama peraih penghargaan Pemuda Pelopor bidang Seni dan Budaya 2020 ini berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi prodi ekonomi pembangunan Unigoro memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi tentang entrepreneurship. (din)
