BOJONEGORO – Untuk pertama kalinya Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah umum internasional via daring, Selasa (2/6/26). Kuliah umum yang diikuti seluruh mahasiswa-mahasiswi fakultas tersebut membahas tentang metode keamanan hayati atau biosekuriti di negara Australia. Dengan menghadirkan Dr. Anthony Young, Associate Professor in Crop Protection School of Agriculture and Food Sustainability The University of Queensland Gatton, Australia.
Dekan Fakultas Pertanian Unigoro, Ir. Darsan, M.Agr., mengapresiasi kegiatan akademik yang diinisiasi oleh Prodi Agribisnis Unigoro. Kuliah umum dengan narasumber bertaraf internasional menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Terlebih rumpun ilmu pertanian terus berkembang dan lebih spesifik. “Melalui forum kuliah umum internasional ini, kita dapat membandingkan sistem pertanian di negara Australia dan Indonesia secara detail. Khususnya terkait biosekuriti,” terangnya.
Rektor Unigoro, Dr. Tri Astuti Handayani, SH., MM., M.Hum., berharap, kuliah umum internasional dapat memperkuat jejaring global kampus. Sekaligus mendorong civitas akademika untuk melaksanakan riset yang relevan dengan topik-topik terkini.
Sementara itu, Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro, Dr. Arief Januwarso, S.Sos., M.Si., menegaskan misi Unigoro menuju kampus bertaraf international. Sehingga aktivitas pembelajaran harus familiar dengan istilah akademik asing. “Langkah ini (kuliah umum internasional) dapat diikuti prodi-prodi lainnya. Sehingga bisa ditindaklanjuti dengan kerja sama fakultas dengan kampus asing,” tuturnya.
Menurut Anthony, biosekuriti atau keamanan hayati adalah istilah yang relatif baru untuk fenomena lama. Metode biosekuriti terus berkembang dan bersifat dinamis. Kombinasi antara ilmu pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dapat menghasilkan biosekuriti yang baik. “Aspek keamanan hayati tanaman meliputi resiko, karantina, taksonomi, respon, politik, masuknya OPT (organisme pengganggu tanaman) asing, diagnosis, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Pakar epidemiologi penyakit tebu ini mengulas sejarah biosekuriti sejak zaman Yunani Kuno yang diawali dengan adanya kelompok penderita kusta kemudian harus dikarantina selama 40 hari. Lalu muncul wabah mematikan atau The Black Death yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ditularkan oleh kutu. Penyakit pada tanaman dapat berupa kerusakan kompleks gen yang berevolusi bersama. Sehingga patogen yang mematikan inang harus menemukan inang alternatif. “Biosekuriti sebenarnya memberikan tantangan bagi semua pihak yang terlibat. Karena antara kehadiran ahli pertanian serta regulasi pemerintah di bidang tersebut saling terkait. Contohnya seperti wabah Malaysian Pineapple Ghost Rot yang disebabkan oleh strain bakteri yang kurang terkarakterisasi. Biosecurity Australia mengklaim strain Ghost Rot bersifat endemik dan karenanya tidak menimbulkan ancaman,” paparnya.
Kuliah umum internasional yang dimoderatori oleh Edi Wiraguna, SP., M.Sc., Ph.D., berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian Unigoro memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bersikusi tentang biosekuriti. (din)
