BOJONEGORO – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Bojonegoro menyiapkan arah baru organisasi untuk periode 2026–2031. ICMI ingin mengambil posisi sebagai mitra intelektual daerah yang menghasilkan kajian kebijakan publik berbasis penelitian sekaligus menjadi jembatan antara umat dan tata kelola pemerintahan.
Ketua terpilih ICMI Orda Bojonegoro, Dr. Arief Januwarso, S.Sos., M.Si, menyebut ada ruang yang selama ini belum banyak diisi organisasi masyarakat Islam. Yakni analisis kebijakan dari perspektif cendekiawan muslim.
“NU besar dimobilisasi massa. Muhammadiyah kuat di pendidikan dan kesehatan. MUI mengurus fatwa. Ruang yang belum diisi adalah analisis kebijakan dari perspektif cendekiawan muslim. Itu posisi kita,” paparnya dalam forum Silaturahim Calon Pengurus Masa Bakti 2026 – 2031 di Ruang Adu Ide Universitas Bojonegoro (Unigoro), Senin (22/6/26). Forum ini turut dihadiri Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan jajaran calon pengurus Majelis Pengurus Daerah (MPD) ICMI Bojonegoro.
Suasana silaturahim berlangsung gayeng, cair, aktif, dan santai. Para peserta tampak leluasa menyampaikan gagasan, kritik, maupun usulan untuk arah organisasi lima tahun ke depan. Tak ada suasana formal yang kaku. Diskusi mengalir santai, sesekali diselingi canda, namun tetap serius membahas peran ICMI dalam pembangunan Bojonegoro.
Hadir dalam acara itu antara lain Sekretaris Dewan Penasehat Dr. H. Mundzar Fahman, M.Si, anggota Dewan Penasehat Drs. H. Hanafi, M.Pd dan Drs. H. A. Khudlori, M.Si. Dari Dewan Pakar hadir Ketua Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM, Sekretaris Prof. Dr. Hj. Sri Minarti, M.Pd.I, beserta anggota dewan pakar lainnya. Sementara dari jajaran MPD hadir Ketua terpilih Dr. Arief Januwarso, S.Sos., M.Si, Sekretaris Awaludin Ridwan, SPt., M.M, serta para wakil ketua dan pengurus lainnya.
Arief melanjutkan, ICMI Bojonegoro selama ini lebih dikenal sebagai kumpulan tokoh dan akademisi, tetapi belum dikenal sebagai produsen kajian yang dapat menjadi rujukan publik. “ICMI dikenal sebagai nama, tetapi belum sebagai produsen kajian. Belum ada policy brief atau potition paper yang menjadi rujukan publik,” imbuhnya.
Karena itu, kepengurusan lima tahun ke depan tidak akan diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari dampak yang dihasilkan. Ia menyebut terdapat lima indikator utama yang menjadi pijakan organisasi, yakni iman dan takwa, fikir, karya, kerja, dan hidup. “Kalau lima tahun ke depan kepengurusan kita tidak bisa menunjukkan dampak terukur di lima dimensi ini, maka kepengurusan kita gagal, apa pun aktivitas yang dilaporkan,” tukasnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, ICMI Bojonegoro menyiapkan lima program utama. Antara lain ICMI Mengajar, Kajian Strategis Daerah, ICMI Sehat, Kaderisasi Cendekiawan Muda, dan Antologi Cendekiawan. Kelima program itu dirancang sebagai satu sistem yang saling terhubung, bukan kegiatan yang berdiri sendiri.
Program ICMI Mengajar yang telah berjalan akan diperluas ke sejumlah kampus dan sekolah di Bojonegoro. Sedangkan Kajian Strategis Daerah akan diwujudkan melalui podcast bulanan yang membahas isu-isu strategis, terutama bidang pertanian dan ekonomi.
Adapun program ICMI Sehat akan difokuskan pada isu stunting dengan target menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan bagi Pemkab Bojonegoro. Di bidang kaderisasi, ICMI berencana menggandeng pesantren dan SMA untuk membentuk cendekiawan muslim muda melalui pelatihan menulis esai dan analisis kebijakan. Sementara budaya menulis di internal organisasi akan diperkuat melalui penerbitan buku antologi yang melibatkan anggota dari berbagai disiplin ilmu.
“Yang kita bangun adalah sistem yang bisa diestafetkan, bukan sekadar acara tahunan,” ujar Arief.
Ketua Dewan Pakar ICMI Orda Bojonegoro, Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM, mendukung arah baru yang digagas kepengurusan mendatang. Menurutnya, ICMI memiliki posisi strategis dalam menghasilkan kajian publik yang dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
“ICMI memiliki posisi strategis dalam menghasilkan kajian publik yang menjadi jembatan antara masyarakat dan Pemkab Bojonegoro,” ucapnya.
Cantika Wahono, sapaan akrabnya, juga mengusulkan agar ICMI memiliki satu program unggulan yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk kontribusi nyata organisasi.
“Ini bisa menjadi program prestisius ICMI, misalnya dalam bentuk forum atau kegiatan ilmiah yang menghasilkan rekomendasi untuk disampaikan kepada Pemkab Bojonegoro,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pakar, Prof. Dr. Hj. Sri Minarti, M.Pd.I, mengusulkan penyusunan buku antologi yang merekam kiprah dan kontribusi ICMI Bojonegoro bagi masyarakat. “ICMI semestinya memberikan dampak positif kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatannya,” usulnya.
Sementara itu, Wakil Ketua ICMI Orda Bojonegoro, H. Zainal Fanani, S.Pi., MP, mendukung penguatan program ICMI Mengajar dan podcast sebagai sarana penyebaran gagasan serta informasi yang lebih berimbang. “ICMI bisa menjadi pendorong lahirnya penelitian mahasiswa, khususnya di bidang pertanian,” kata pria yang juga menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro.
Silaturahim ini menjadi forum awal bagi para calon pengurus untuk menyamakan visi sekaligus merumuskan peran ICMI Orda Bojonegoro selama lima tahun ke depan. Yakni menjadi organisasi cendekiawan yang tidak hanya hadir dalam forum-forum seremonial, tetapi juga berkontribusi dalam perumusan gagasan dan kebijakan pembangunan daerah. (din)
