BOJONEGORO – Prodi kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung H Fakultas Sains dan Teknik Unigoro, Kamis (19/12/24). Kuliah praktisi kali ini membahas potensi pasar bioetanol sebagai bahan baru terbarukan. Prodi tersebut menghadirkan Moch. Dimas Khoirul Umam, ST., sebagai SPV Fermentation and Refinery Engineer PT. Energi Agro Nusantara (ENERO).
Di hadapan mahasiswa, Dimas menyebut pasar bioetanol di dunia dikuasai oleh fuel grade (FG) etanol dengan perbandingan FG : Non FG = 91,6% : 8,4%. Pasar bioetanol Indonesia saat ini hanya didominasi non FG dengan rata-rata peningkatan konsumsi sangat kecil. Yakni enam persen atau sekitar 13 juta liter per tahun. Peluang pasar FG di Indonesia bisa tercipta jika pemerintah menerapkan kebijakan pengembangan bioetanol sebagai biofuel untuk pengganti BBM di Indonesia. “Salah satu prinsip dari kimia lingkungan adalah menggunakan bahan baru terbarukan. Nah, bioetanol itu menggunakan bahan baru terbarukan yang berasal dari nabati atau tanaman,” tuturnya.
.jpg)
TERBARUKAN: Kuliah praktisi prodi kimia Unigoro membahas potensi pasar bioetanol sebagai bahan baru terbarukan.
Bioetanol diproduksi dari bahan baku berdasar gula, pati atau starch, dan selulosa. Masing-masing bahan memiliki metode tersendiri dalam proses pembuatannya. “Kalau bahannya dari gula prosesnya hanya difermentasi dan didistilasi. Sedangkan bahan pati harus melalui proses pretreatment, likuifasi, sakarifasi, baru bisa difermentasi dan didistilasi. Sementara bahan selulosa juga sama seperti pati. Bedanya tidak ada likuifasi dan sakarifasi, tetapi diganti hidrolisis enzimatik, dilanjutkan difermentasi dan didistilasi,” terang Dimas.
Yeast atau ragi sangat berperan dalam proses fermentasi. Menurut Dimas, ragi memanfaatkan glukosa menjadi ethethanol jika glukosa ada dalam konsentrasi tinggi. Di momen ini, dia juga mencontohkan produksi etanol dengan dua jenis ragi pada tiga kondisi suhu. “Kecepatan perkembangan biakan ragi pada produksi etanol akan semakin tinggi ketika suhu naik. Dari sub optimim ke optimum. Kemudian akan menurun lagi setelah melewati suhu optimum,” jelasnya.
Mahasiswa kimia Unigoro tampak antusias dengan kuliah praktisi tersebut. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi tentang potensi bioetanol sebagai bahan baru terbarukan. (din)
