BOJONEGORO – Tiga mahasiswa prodi ilmu lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) menorehkan prestasi yang membanggakan. Mereka menjadi juara pertama lomba esai tingkat nasional Lestari 2024 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lingkungan (PSL) Universitas Ibn Khaldun Bogor, pada 2 September 2024. Esai yang berjudul Angon Bebek: Future Smart Agriculture karya Akbar Andis Saputra, Eka Luluk Fitriani, dan Janatul Firdausi Ahla sukses menuai pujian dewan juri. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran pembimbing Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc.
Akbar menuturkan, timnya sengaja mengangkat topik tentang pertanian berkelanjutan karena prihatin dengan meningkatnya penggunaan pestisida kimia untuk memberantas hama di kalangan petani. Sebab, dapat merusak lingkungan dan tidak mendukung pertanian berkelanjutan. Akbar, kedua rekannya, dan pembimbing lantas melakukan telaah berbagai jurnal. “Di Jepang ada seorang petani bernama Takao Furuno yang menggunakan bebek untuk membasmi gulma di sawahnya pada tahun 1988. Jadi metode yang digunakan Integrated Rice-Duck Framing (IRDF). Anak-anak bebeknya diangon (digembalakan, Red) ke sawah untuk memberikan pupuk alami dari kotorannya. Sekaligus memakan gulma dan hama seperti keong, wereng, maupun hama pengerek batang yang ada di padi,” jelasnya.
Mahasiswa semester lima prodi ilmu lingkungan Unigoro ini menambahkan, metode angon bebek ini cocok diterapkan di Indonesia. Sayangnya, peternak bebek dan petani padi belum melakukan kolaborasi maksimal. Padahal, praktik pertanian berkelanjutan seperti ini sangat menguntungkan secara ekologis maupun ekonomis. Lingkungan persawahan sehat dan minim pencemaran, sekaligus mengurangi cost produksi pertanian. “Kalau di Jepang, jenis bebek yang digunakan adalah bebek aigamo. Persilangan bebek jantan liar dan bebek betina yang dibudidayakan di kandang khusus. Lalu bebek yang dilepaskan ke sawah minimal berusia tujuh hari. Jumlahnya antara 15 sampai 30 ekor untuk satu per sepuluh hektar sawah,” imbuhnya.
Akbar dan kedua rekan timnya berharap, gagasan yang dituangkan dalam esai Angon Bebek: Future Smart Agriculture dapat ditindaklanjuti dan diteliti lebih mendalam. Mengingat Indonesia adalah negara agraris yang memiliki area persawahan sangat luas. Sehingga konsep angon bebek sangat potensial diterapkan dalam aktivitas pertanian. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pembimbing Bu Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc., yang memberikan inspirasi bagi kami untuk mengangkat topik tentang pertanian berkelanjutan. Sehingga kami bisa menyisihkan peserta dari PTN dan PTS ternama,” pungkas Akbar. (din)
