BOJONEGORO – Jelang satu tahun kepemimpinan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah, akademisi Universitas Bojonegoro (Unigoro) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan catatan-catatan khusus terkait program prioritas yang sudah dijalankan. Terutama dari perspektif kebijakan publik, pertanian, dan teknologi sains.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unigoro, Dr. Ahmad Taufiq, S.Hi., M.Si., menuturkan, kemiskinan masih menjadi isu utama sekaligus PR laten bagi setiap rezim pemerintahan di Kota Minyak. Terobosan program pengendalian kemiskinan seperti Gayatri (gerakan beternak ayam petelur mandiri), menunjukkan upaya pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil meski belum optimal.“Diperlukan kebijakan berbasis data, pemetaan wilayah prioritas, serta sinergi lintas sektor untuk mempercepat penurunan kemiskinan secara berkelanjutan. Mengingat setiap desa memiliki karakteristik permasalahan kemiskinan yang berbeda. Sehingga memerlukan intervensi kebijakan yang spesifik dan terintegrasi,” tuturnya dalam forum general sharing di Hall Suyitno, Jumat (9/1/26).

Di sektor pertanian, Pemkab Bojonegoro berupaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian terutama pada komoditas unggulan. Dekan Fakultas Pertanian UGM, Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menilai, pemerintah daerah harus mengintegrasikan teknologi smart farming, pertanian regeneratif, dan korporasi petani. Untuk mencapai target pusat pangan dunia pada 2045. “Langkah strategis lintas sektor yang bisa dilakukan moratorium konversi lahan dan optimasi lahan rawa, asuransi pertanian, dana abadi 2% untuk inovasi pertanian, serta hapus sistem monopoli. Karena menuju 2045, petani bukan lagi objek kebijakan. Melainkan subjek pengusaha yang berdaulat atas tanah dan hasil panennya,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas MIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., mendorong pemerintah setempat untuk hilirisasi inovasi akademik yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Bojonegoro. Strategi hilirisasi bisa melalui jalur vendor riset dan spin-off company. Dia mencontohkan, GeNose C19, alat deteksi Covid-19 karya UGM. Berawal dari invensi atau temuan riset, justru menjadi inovasi produk yang dipakai dan bernilai. “Kita harus membangun jembatan yang dapat mentranslasikan keunggulan riset menjadi standar yang diterima industri,” terangnya.
General sharing yang dimoderatori oleh Kaprodi Kimia Unigoro, M. Bakhru Thohir, S.Si., M.Sc., berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi Unigoro memanfaatkan momen untuk berdiskusi tentang arah pemerintahan Bojonegoro dari sudut pandang akademisi. (din)

